Soal Hak Perempuan atas Alat Reproduksinya dan Kewajiban Mengurus Anak.

Judulnya sih kelihatan berat tapi isinya sebenarnya hanya curahan kegusaran hati saya melihat betapa lemahnya posisi perempuan yang pernah saya temui maupun yang tinggalnya berdekatan dengan rumah saya.
1. Seorang ibu yang usia anaknya yang pertama di atas saya 2 tahun. Masih termasuk keluarga jauh saya juga. Anaknya yang bungsu (semoga emang ini yg bungsu) malah seumuran sama cucunya yang pertama. Kalau dihitung kira-kira kalau hidup semua sih soalnya ada beberapa yg keguguran, mungkin anaknya bisa 15 orang.
2. Seorang ibu masih termasuk tante saya juga, anaknya yang pertama pun sekelas dari SD – SMP dengan saya, sahabat lah. Saya selalu main ke rumahnya dan melihat sendiri keadaan mereka. Suaminya hanya seorang guru. Teman saya ini pun adik-adiknya banyak, kasihan dia hanya tamat SMA dan entah apa ada di antara adik-adiknya yang kuliah. Karena sepertinya semua pada kawin dan memenuhi rumah ortunya dengna cucu-cucu.
3. Ada juga seorang ibu yang sempat jadi tetangga samping rumah saya sekitar 12 tahun lalu. Sudah punya 3 anak, lantas ketika hamil lagi anak ke empat dia sempat minum-minum ramuan kampung untuk menggugurkan kandungannya (hadeeeeh). Kemudian ditanyai sama Mama saya kalau mau ke dokter/puskesmas untuk minta tubektomi saja. Kata itu ibu, takut suaminya marah. Helloooooouw???
Ini hanya beberapa contoh, kalau mau ditambahkan lagi bisa lebih banyak cerita lainnya. Yang membuat saya prihatin adalah betapa kasihannya para perempuan ini. Kenapa saya bilang kasihan? Karena saya merasakan juga tidak enaknya saat hamil – melahirkan – mengurus anak. Bisa saya bayangkan bagaimana rasanya bila proses itu berulang berkali-kali.
Saya rasa dan saya pikir, kadang perempuan punya posisi lemah dalam mengambil keputusan berapa anak yang mau dilahirkan dalam keluarganya. Terutama perempuan-perempuan yang selama ini dianggap kelas dua, tidak berhak menentukan nasibnya sendiri, tidak punya bargaining power, perempuan kampung, masih tradisional pemikirannya, dan lain sebagainya.
Saya bisa mengatakan siklus hamil – melahirkan – mengurus anak itu bisa saja jadi proses yang menyenangkan selama saya menjalaninya didukung penuh oleh sang suami. Ada dua pihak yang bekerja sama disini untuk membuat semuanya menjadi lebih ringan. Tetapi kalau dalam prosesnya ternyata saya harus berjuang sendiri, sakit-sakit saat hamil gak dipedulikan, saat melahirkan gak didampingi, sampai ngurus anak pun dibiarkan sendiri karena katanya sudah kewajiban (ada yg bilang kodrat) perempuan/istri/ibu, kalau kayak gitu caranya yah cukuplah sekali saja saya merasakan susahnya melalui siklus itu. Jangan hanya mau saat enaknya saja tapi saat susahnya hamil – anak lahir suami tidak mau turun tangan ikut membantu. Padahal ya ketika kita perempuan sudah hamil, ya itu tanggung jawab bukan hanya menjaga kehamilan sampai anak lahir, tapi sudah jadi tanggung jawab seumur hidup kita untuk bisa membesarkan, mendidik dan mendampingi anak-anak ini nanti sampai dewasa/mapan. Untuk itu juga butuh peran dari pendamping kita alias para suami. Kalau dapat suami yang malas tahu, asal terima beres gak mau bantu repot-repot ngurus anak juga, jangan mau punya anak lebih dari satu. Capek sendiri buk!!! Udah capek sendiri, marganya ikut Bapaknya pulak. Hahahaha….
Jadi yang ada dalam otak saya itu, apa ya para ibu-ibu jagoan yang sudah melahirkan banyak anak itu gak capek yah? Hamil – melahirkan – mengurus anak sebanyak itu apa gak gempor juga? Emang sih bisa dibantu anak pertama kalau sudah besar. Saya juga dulu bantu Mama saya ngurus adek saya yg ke 3 dan ke 4, bagian cuci popok yang ada pupnya pun saya lakoni. Ckckckck….
Saya trenyuh kalo lihat ibu-ibu yang anaknya banyak. Apa mereka tidak punya pilihan? Memilih untuk bisa punya banyak waktu luang buat diri sendiri dibandingkan harus siaga 24 jam ngawasin anak. Ya emang kalau udah punya anak tetap siaga 24 jam demi anak, tapi bayangkan coba kalau anaknya lebih dari 5. Berturut-turut pula lahirnya kayak anak tangga. Gimana si ibu bisa istirahat? Bagaimana dengan kualitas hidup yang bisa diberikan pada anak-anaknya? Sungguh saya tak habis pikir. Mending kalau dibantu suaminya, kalau enggak?
Dari sejumlah keluarga yang saya lihat di sekitar saya, si ibu seperti tidak punya pilihan itu. Kalau emang hamil ya udah tinggal ngelahirin trus ngurus, entah nanti bisa sekolah atau tidak, bisa sampai kuliah atau tidak, ya kayak gitu lah. Padahal bertambahnya anak juga bertambahnya satu mulut yang harus dikasih makan sampai besar. Makanan, Pakaian, Pendidikan, Kesehatan, dll semua itu juga harus dipikir. Bagaimana kita mau menciptakan generasi di bawah kita yang lebih maju dari kita kalau kita hanya mikir kuantitas bukan kualitas.
Saya rasa ini tugasnya posyandu-posyandu yang ada melalui kadernya, puskesmas/pustu bahkan juga kita sendiri sebagai sesama perempuan untuk memberikan pandangan kepada para perempuan yang tidak punya pilihan maupun tidak bisa mengambil keputusan sendiri itu.
Hidup sekarang makin susah, pendidikan makin mahal, kesehatan juga. Banyak anak bukan lagi banyak rejeki, jadi sebaiknya harus dipikirkan juga masak-masak sebelum jadi ibu yang punya banyak anak. Sebelum akhirnya ada tetangga kita juga yang stress sampai bunuh anak karena bingung bagaimana mau hidupin anak sementara bapaknya gak peduli. Atau yang terpaksa sembunyi-sembunyi minum segala macam ramuan kampung, pergi ke bidan-bidan yg bisa membantu menggugurkan kandungan hanya karena tak mau punya anak tapi tidak berani mengungkapkan kepada suami untuk sekedar mengikuti KB. Miris bukan?
Sudah saatnya perempuan memahami kebutuhan dirinya sendiri juga. Alat reproduksi punya kita seharusnya bisa kita atur sendiri untuk kebaikan bersama maupun kebaikan kita sendiri. Yang hamil kita, yang melahirkan kita, yang urus anak juga lebih dominan kita sebagai ibu yang melakukannya. So…. Pintar-pintarlah kita sebagai perempuan untuk bisa berkuasa atas alat reproduksi kita sendiri.

Tukang parkir sialan

Bayar 500 harusnya urusan beres kan.. tapi ini jadi bikin emosi. Untung saya cukup waras sebelum memulai perkelahian dengan seorang tukang parkir di warnet langganan saya. Iyah saya perempuan, tapi bukan berarti tidak berani melawan orang reseh. HUFF…

Apa saya emang menyalahi kodrat dengan selalu nangkring semalam suntuk disitu??? Ga boleh yah??? Sini yang punya duit kok situ yang repot.

Ngerasa aneh liat perempuan di warnet begadang sambil sesekali menikmati secangkir kopi??? Tinggal balik belakang dan ga usah lihat saya lagi deh. Saya juga ga minat liat orang lain. Saya lebih baik membaca blog orang, nangkring di forum, diskusi ama anak2 di Conference dan nyari ilmu di jagat worldweb ini. Itu sudah membuat saya puas dan nyaman nangkring di warnet ini. apalagi OP nya cakep

Enak aja main pukul rata. Kiranya saya ini sama kayak yang suka nangkring di MIRC dengan nick2 aneh seperti ce_ngemoetz_50rb itu???????!!!!! a@#%$^s&@^@^u&#@

Kalau saya cuma punya waktu yang lowong di malam hari, salahkah saya kalau saya bisanya nangkring di warnet malam-malam???

**jadi pengen beli kartu setan itu**

Oh iya, marahnya saya sama tukang parkir itu, soalnya di suatu malam saat saya mau pulang dari warnet earth net itu kira2 masih jam 10 deh (ya ampun, bencong aja baru keluar jam segitu), si tukang parkir itu dengan tampang yg gimana gitu ngomong gini “ya udah mbak motornya titipin sini aja sampe pagi, aman koq”. DIkiranya saya ini mau keluar menemui seseorang yg udah janjian lewat internet trus ntar balik lagi kesana. Hm… kayaknya ni orang harus saya tatar dulu deh. Hoalah, pengen saya gilas pake buldozer nih.

Wanita gembrot yang pamer

Merasa badan gembrot???? –Ukuran gembrot tuh kyk gimana toh cha- Mmmm yang overweight gitu kali yah. Kalo sayah sih hanya kebesaran tulang, kekeke (penyangkalan tiada tara). Gembrot-gembrot kok mau dipamerin.. bugil lagi. Bisa dibayangkan seorang perempuan yang selalu minder kalau udah menyangkut fisik, apalagi overweight, tapi mau diajak untuk menjadi model lukisan. Siapa sih wanita berani itu?? Beritanya dari detikdotcom. Judul lukisannya Benefits Supervisors Sleeping karya Lucian Freud.

Hmmm bener2 berani bukan?? bayangkan kita2 aja kadang berusaha menyembunyikan segala macam kelebihan lemak2 sialan ini, tapi perempuan ini, si Sue Tilley, berani sangat. Ni poto asli orangnya.

Well, di detik katanya lukisan Sue ini bisa terjual sampai Rp325 Milyar, oh em ji. Yang beli siapa yah??? jadi penasaran. Pecinta wanita2 gemuk?? Hihihihi.

Jadi kalo Gemuk pede aja lagi, sapa tau besok2 dilukis. Tenar dehh. hahahahahaha 😈

*tambah cayang ma lemak2 ini* kekekekeke

foto lukisan diambil dari BBC.co.uk

foto tante Sue Tilley dari metro.co.uk

Curhat Perempuan

Curhat alias curahan hati. sejak kapan yah istilah curhat itu mulai dipakai?? g tau sayah. Yang jelas sayah ingin menulis tentang itu sekarang. Ini curhat-an saya tentang curhat itu sendiri.

Banyak orang yang lebih menyukai untuk mengeluarkan isi hatinya kepada orang lain ataopun benda lain (diary, blog, dsbgnya). Orang lain itu biasanya orangtua, pacar/kekasih, TTM, om, tante, suami, istri,dll (banyak deh kalo disebut), pokoknya orang yang mereka anggap bisa dipercaya untuk diceritakan, bisa memberikan ketenangan buat yang curhat, bisa ngasih nasehat, syukur2 bisa membantu memecahkan masalah si pencurhat (waduh pemerkosaan bahasa nih), atopun sekedar si pencurhat tersebut bisa merasa plong alias lega.

lanjutan curhatan sayah