Hamil lagi

loading

 

Keputusan untuk hamil lagi entah kenapa tiba – tiba nongol di benak saya sejak Maret 2014 lalu. Mungkin juga karena melihat teman-teman kantor saya yang bersamaan melahirkan di tahun 2012 pada hamil lagi di tahun 2014 ini sehingga sedikit membuat saya jadi pengen ikut-ikutan untuk hamil lagi.

Berhubung saya sebagai penguasa alat reproduksi saya sendiri yang mendadak menginginkan tahun 2014 ini menjadi tahun terakhir saya bisa hamil, akhirnya saya pun meminta suami untuk tidak memakai alat kontrasepsi supaya bisa mewujudkan keinginan saya itu.

Setelah saya ingin ‘ikut-ikutan’ hamil lagi seperti teman-teman lainnya, saya memang mempertimbangkan lagi keputusan ini. Karena ini menyangkut nyawa baru yang harus dilahirkan, lalu kakaknya yang masih berusia 1 tahun 3 bulan. Tapi setelah dipikirkan baik-baik, akhirnya keputusan hamil itu tetap saya lakukan.

Pertimbangannya begini :

  • Kakaknya memang masih 1 tahun 3 bulan, namun karena pemilihan waktu saya untuk hamil di bulan Maret 2014 perkiraan anak ini lahir sepertinya akan sama atau dekat dengan tanggal lahir kakaknya. sekitar akhir November 2014 atau awal Desember 2014. Seenggaknya saat bayi di kandungan ini lahir, kakaknya udah pas 2 tahun.
  • Walaupun kakaknya masih kecil, sepertinya biarlah sekalian repot ngurusin krucil-krucil ini. Daripada saya memberi jarak yang agak jauh, malah nanti repotnya ngulang lagi. Jadi biarlah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui lah. Sekalian capek saat ini.
  • Umur saya tahun ini sudah 30 tahun. saya pikir sudah saatnya saya untuk menyelesaikan kegiatan reproduksi di tahun ini supaya berikutnya tinggal bagaimana membesarkan anak-anak saja sambil saya juga mengatur karir saya ke depan nantinya.
  • Umur suami sudah menginjak angka 37 tahun. Saya khawatir juga semakin lama ditunda anak berikutnya, kasian juga nanti. Gak mungkin kan saya mau punya anak lagi kalau suami sudah 40 tahun. Supaya setidaknya ketika anak-anak sekolah sampai pendidikan yang tinggi suami masih dalam usia produktif untuk bekerja.

Kayaknya hanya itu pertimbangan-pertimbangan penting yang membuat saya memutuskan untuk hamil lagi.

Ohya, ini kehamilan ke empat saya. Sejak yang pertama perempuan Chacha, kedua cowok Vano, ketiga Rafael, dan ini yang keempat menurut dokter cowok lagi. 😀

Sangat menyayangi anak-anak ini walau yang dua nya lagi sudah tidak tinggal bersama saya. Pembaca blog ini sejak 2008 pasti tahu kisah hidup saya sejak awal itu seperti apa hingga akhirnya harus terpisah dengan anak saya yang lainnya.

Yah begitulah hidup yang harus saya jalanin. Sekarang lagi fokus ngurusin yang 1 tahun 9 bulan ini sambil merawat kehamilan ku yang sudah 7 bulan ini. Moga semua sehat selalu.

 

sumber gambat dari sini

Iklan

Belajar dari usia dini

Katanya anak pada usia 0-6 tahun adalah masa Golden Age yang bagus untuk belajar. Belajar hitungan sampai bosan, beralih ke latihan menggambar. Sayangnya, melihat laptop yang menganggur membuat si kecil lebih memilih untuk mencoba-coba hal baru yang kelihatannya lebih menarik. Program Drawing for Children pun di otak-atik. Sampai akhirnya tangan mommy yang dari tadi membantu untuk mengarahkan ditepis.

“chacha mau coba sendiri mama….”

Duh.. sekecil ini udah bisa main2 dengan laptop. Jaman ortunya aja masih sering main sama kodok di rawa-rawa. Ngejar layangan putus. Main di pohon sampai mama teriak-teriak. Beda dengan sekarang.

Kalau dulu pengen punya mobil2an tapi gak ada duit, buat sendiri pakai kulit jeruk bali. Sekarang.. tinggal ke toko mainan udah ada, dari yg kecil sampai yang bisa dinaiki ada dijual.

Kalau dulu pengen main boneka dan rumah-rumahan, dijahit sendiri bonekanya sama oma, trus rumah-rumahnya dibuat opa dari triplek bekas. Bagian interior tinggal pakai sisa2 potongan kayu dari rumah orang yg baru dibangun. Sekarang.. tinggal beli di toko. Ada semua.

Kalau dulu……. Sekarang, semua bisa di beli di toko. Arghhh…. *melirik dompet*

Emang anak jaman sekarang. Yang katanya iklan bakal jadi Generasi Platinum *syg susu yg di iklan itu mahal je*

———————————————-

Capek belajar dan main di rumah, jalan-jalan dengan sepeda motor ke daerah jalan Solo bersama papa mama. Rencananya mau ke toko perlengkapan anak-anak. Eh… minta pindah ke depan.  Tangan papanya di setang motor pun ditepis berkali2 sampai akhirnya, tangan mungil itu yang memegang setang motor.

“ngeng.. ngeng..”

Wadow.. gak tau apa kalau mama yang dibelakang dagdigdug seerr. Tapi gak masalah, mamanya juga dulu begitu sih. Gak tahan duduk di belakang. Dulu aja kelas 5 SD udah bisa bawa motor cuman kaki yang belum nyampe ke persneling dan rem. huehuehue. Sekarang harus bisa dong belajar medan di jalan raya. Hihihihi :mrgreen: Biar nanti kalau sudah gede jadi pengendara motor yang baik dan terampil. Penting itu.

-besok belajar apa lagi yach-