Dalam Masa Penantian

Setelah sekian bulan lamanya saya tak pernah mengisi jurnal online saya ini, akhirnya malam ini saya berusaha untuk mengingat berbagai macam password yang saya rasa pernah saya pakai untuk membuka blog ini lagi. Beberapa kali percobaan dan saya menyerah langsung meminta reset password daripada mata saya makin lama makin sepet. Beruntung bahwa saya masih ingat password emailnya.

Jadi setelah sekian lama, kenapa harus malam ini?????
Karena saya sedang dalam keadaan bingung dan gak tahu mau ngapain lagi pemirsah.

Lah kok bisa?
Ya bisa aja. Saya saat ini lagi menganggur berat sodara-sodara. Syukurnya hanya untuk sementara saya cuti dari tempat kerja saya yg suka mengatasi masalah tanpa masalah itu. Sebabnya adalah karena hasil dari pernikahan saya dengan seorang pria di awal tahun 2012, sehingga saat ini saya harus cuti menunggu persalinan. Jadi begitu ceritanya.
Nah… saat ini usia kandungan saya sudah memasuki minggu ke 40. Bahkan sudah melewati sehari dari Hari Perkiraan Lahir menurut dokter kandungan saya. Makanya itulah makin cemaslah saya. Daripada setres gak keruan, mending curhat-curhat tralala lagi di blog kesayangan saya ini.

Sungguh tidak disangka yah… Kalau melihat kilas balik sejak blog ini pertama ditelurkan. Kisah hidup saya begitu luar biasa aneh bagi yang melihat. Mungkin kalau bisa saya membaginya dalam beberapa periode akan seperti ini:
Periode 2004 : Masa Jahiliyah
Periode 2005 : Masa Pertumbuhan
Periode 2006 – 2008 : Penuh dengan cobaan
Periode 2009 : Masa Kehancuran
Periode 2010 : Masa Kebangkitan
Periode 2011 : Masa Kedewasaan
Periode 2012 : Kembali pada masa pencobaan 😀

Hidup itu kadang di atas kadang di bawah, makanya di tahun 2012 ini banyak hal yang sudah terjadi. Sejak dilamar pada 16 Oktober 2011, saya pun khilaf mau menikahi pria yang tak peduli dengan masa lalu saya yang kelam pada tanggal 7 Januari 2012. Tak ku duga sejak Maret 2012 diri ku pun tekdung tralala. Kali ini RESMI. Udah SAH.
Kehamilan ini pun berlangsung dalam masa yang penuh pergolakan batin. Banyak masalah terjadi di kantor maupun dalam kehidupan RT. Maklum aja, trauma masa lalu kadang membuat saya jadi rentan dan rapuh. Rasa tidak percaya diri maupun tidak percaya pada pasangan sering timbul. Tapi ya itulah bumbu-bumbu dalam hidup berumah tangga katanya.
Sampai akhirnya saya tiba di malam ini. Malam saya kembali menuangkan kata-kata yang ada dalam pikiran saya saat ini. Saya sedang dalam masa penantian. Menanti kedatangan malaikat kecil saya yang masih betah di perut. Sepertinya anak ini akan membuat saya ingin mengabadikan setiap jejak rekam hidupnya di blog ini. Hehehehe…
Dan salah satu yang buat saya pusing hingga saat ini adalah saya belum menemukan nama yang tepat untuk bayi satu ini. 😦 huksssss….
Mungkin sebaiknya tunggu dia lahir dulu ya… Sayangnya, bayi satu ini udah dirayu dengan segala cara masih belum mau keluar dari rahim saya. Padahal saya udah capek nungging, jongkok, jalan kaki, sepedaan, tenteng air dua ember sampai lari-lari kecil pun gak mempan. Hikssssss.
Mohon bantuan doanya ya kawan. Semoga saya tidak terlalu lama menanti.

Kembali lagi

Hari Minggu yang tumben cerah setelah diguyur hujan semalaman kemarin, kota Sorong terlihat begitu bersih dari jendela rumah kost saya.

Yah…. setelah sekian lama, saya kembali lagi ke blog ini. Kembali menulis segelintir cerita-cerita yang biasa saja, kadang aneh, kadang lucu namun kadang bisa memberikan arti yang dalam dalam hidup saya.

Dan kali ini saya kembali dengan status yang sudah berbeda. Sudah menjadi istri orang. Hohohoho 😀
Luar biasa bukan.

Sama halnya ketika saya sedang terjebak dalam penderitaan skripshit dan akhirnya bisa wisuda. Kali ini pun demikian. Tidak saya sangka dan duga, setelah sakit yang luar biasa saya rasakan dalam hidup saya akibat urusan hati saya ini. Ternyata saya bisa juga jatuh dalam pelukan seorang pria yang bertekad kuat mau menikahi saya. Hihihihi…

Jadi…. saya ingin kembali lagi ke blog ini. Rasanya banyak cerita yang tak sempat saya tumpahkan ke blog ini. Begitu banyak kejadian luar biasa. Dan semoga saya masih punya rasa haus menulis yang lucu, aneh dan gila itu lagi.

Kangeeeeeen ngeblog lagi. 😀

Tentang Dia

Saya memang jahat.
Mencobai dengan segala macam cara. Menyakiti dengan apapun juga yg bisa digunakan. Melukai hingga begitu dalamnya.
Hanya ingin melihat apakah dirimu bisa bertahan atau akhirnya pergi seperti yg sebelumnya.

Tapi selalu saja kau membuat ku marah. Marah karena dirimu tak pernah mau pergi. Marah karena ternyata kamu tak seperti mereka yg sebelumnya.

Sialan kamu!!!
Kamu membuat saya akhirnya menyerah pada cinta ini, pada perasaan ini.

Terima kasih, saat ini saya bahagia.

Tentang Sorong yang tak lagi aman

Beberapa hari yang lalu, saya masih menganggap kota ini adalah kota yang sedikit nyaman dan aman buat saya. Well, sepertinya saya masih berpikiran kalau kota ini masih sama seperti 10 tahun lalu sebelum saya tinggalkan untuk berangkat ke Jogjakarta.

Sorong dengan segala hiruk-pikuknya memang merupakan kota yang mulai menggeliat untuk menjadi kota modern di kawasan barat Papua ini. Pembangunan dimana-mana, hal ini bisa dilihat dari semakin beratnya badan saya yang tiap hari harus makan debu pasir dari truk-truk yang hilir mudik membawa pasir kemana-mana. Tiap hari sodara-sodara!!! #pentingbanget

Tak heran bila mulai banyak waralaba-waralaba yang sudah melirik kota ini. Dari waralaba kuliner, hiburan (karaoke HepPup), sampai toko buku yg saya sering lihat di Jogja pun sudah ada di Sorong.

Hebat! Semakin maju saja kota tercinta ini. Sayangnya, saya lupa bahwa seiring dengan kemajuan yang ada. Rupanya tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat di kota ini. Berdampak pada perilaku konsumtif masyarakat yang sadar gengsi mungkin iya. *gubraks*

Saya juga lupa bahwa semakin maju suatu kota, juga dibarengi dengan semakin canggihnya orang-orang yang kepepet karena tekanan ekonomi ataupun orang-orang yang hanya butuh duit buat senang=senang untuk melakukan kejahatan.

Jujur saya selalu merasa aman-aman saja berkendara motor saat malam hari di kota tercinta ini. Bagi saya, di Jogja pun yang seperti itu saya selalu selamat bila keluar malam sekedar berjalan-jalan hingga kalau saya berniat untuk ngenet di warnet sampai pagi, apa lagi kalau di kota Sorong ini. Kota yang merupakan tempat besar saya selama ini, yang setahu saya dan seingat saya masih lebih aman dari Jogja.

Ternyata saya salah BESAR!!! Saya lupa akan dampak dari semakin majunya kota ini. Orang menjadi lebih nekat lagi karena kebutuhan-kebutuhan pribadinya mulai menekan moral dan akal sehat,

Tanggal 7 Februari malam sekitar jam 22.30, saya ditabrak dan dijambret di jalan, saat hendak pulang rumah. Scoopy saya hancur bagian kanan. Kaki dan tangan saya luka-luka cukup lumayan. Tas berisi dompet, ATM2, kartu kredit, SIM, KTP, uang cash, hp Nokia dan Blackberry saya pun lenyap dibawa lari. Tapi itu tak seberapa artinya dibanding perasaan saya yang hancur karena kota ini, kota Sorong yang saya pikir lebih aman dari kota mana pun ternyata sudah sedemikian parahnya.

Melaporkan masalah ini ke kantor polisi pun sudah saya lakukan. Tapi saya tak bisa berharap banyak. Tidak mengingat dengan baik no polisi motor yg nabrak itu, bahkan jenis motornya pun saya masih samar-samar. Entahlah apakah para polisi itu bisa menemukannya penjambretnya atau tidak. Saya skeptis akan hal itu.

Dan saya baru tahu saat di kantor polisi, bahwa sudah banyak korban-korban seperti saya. Kata para polisi, jangankan di malam hari, di siang hari pun jambret-jambret ini berani beraksi. Dan sasarannya selalu para perempuan seperti saya yang hidupnya di atas motor. Ada yang pernah diseret di jalan karena masih megang tasnya yg mau dijambret. Ada yang ditendang dari motor. Ada yang kayak saya ditabrak dulu, kalau udah jatuh pura-pura mau nolong padahal cuman nolong tasnya doang trus dibawa kabur.

Untuk lelaki mabuk yang menabrak saya. Hancurkanlah diri mu sendiri dengan uang hasil rampasan itu. Belilah minuman yang bisa bikin kamu bodoh selamanya sehingga bokong mu lah yang jadi pusat nalar dan akal sehat kamu.

Untuk para perempuan pengendara motor di Sorong, berhati-hatilah. Jangan biasakan naruh barang penting di tas saat mengendarai motor. Taruh saja di bawah jok. Bila mengendarai motor pastikan selalu melihat ke spion untuk mengetahui pasti bahwa tidak ada pengendara motor lain yang terlihat aneh mengikuti anda. Lindungi barang berharga anda terutama juga nyawa anda. Bila perlu beli semprotan merica atau apalah, yang bisa dijangkau dan digunakan bila anda berada pada posisi berbahaya (dipepet misalnya). Kalau saya sendiri pengen beli senjata aja rasanya… \(–)/ biar bisa nembak sekalian orang-orang model gitu. *sigh*

 

Yah… pada akhirnya saya hanya bisa ngelus-ngelus dada (–‘)

Kota ini, Kota Sorong ini ternyata sudah tidak aman lagi. *hiksss T_T

Selamat datang 2011, saatnya cari suami :P

Sekali lagi pergantian tahun yang harus dilalui saya selama hidup saya ini. Tak ada yang spesial sebenarnya dari pergantian tahun. Hanya sekedar ganti kalender baru, dan sedikit doa dan harapan-harapa yang diinginkan di tahun yang baru. Pencapaian apa lagi yang harus dikejar. Hanya itu.

Tahun 2010 kemaren merupakan tahun yang penuh berkat buat saya. Punya pekerjaan yang mengasyikkan. Rekan-rekan kerja dan bos yang asyik. Berhubungan dengan nasabah-nasabah yang lucu-lucu, emosian, sampe yang bikin trenyuh. Semua ada.

Tahun kemaren pula, kemajuan papa saya setelah operasi kembali menurun karena sempat anval di awal tahun. Tapi tak mengapalah. Tuhan masih kasih umur yang panjang buat Papa, hingga beliau masih bisa tetap ada di tengah-tengah kami.

Akhir tahun kemaren, tak henti-hentinya mengucap syukur atas berkat Tuhan yang luar biasa hingga Natal dan Tahun Baru bisa sedikit lebih berbeda dari tahun 2009. Kalau tahun 2009 Natal dalam keprihatinan, di tahun 2010 sedikit lebih baik dengan tampilan rumah yang lebih manis 😀

Setelah menutup tahun kemarin dengan penuh sukacita. Sekarang saatnya menatap tahun yang baru ini dengan penuh harapan.

Setelah semua pencapaian yang sudah berhasil dilakukan di tahun 2010, terutama karena udah punya pekerjaan yang menantang. Tahun yang baru ini, ada harapan baru lagi yang secara tidak langsung diutarakan oleh kedua ortu tersayang. Apakah akan ada pernikahan tahun ini….. *glek* **garuk-garuk tembok** Sungguh pertanyaan yang sangat sulit,

Kalau mau melihat kembali beberapa tahun sebelumnya, mungkin diri ku saat itu masih terlena dengan niat pingin nikah secepatnya. yang untung batal bubrah gak jadi. Tapi untuk saat ini, di dalam hati ini masih plin-plan untuk menentukan iya atau tidak.

Nyari pacar itu gampang… Tapi nyari suami itu kok ya susah banget ya.

Banyak yang menawarkan, tapi belum ada yang pas di hati. Ada yang bisa dipas-paskan tapi kok ya masih ada aja yang ngeganjel. Lah emang saya belum merasa dikejar umur buat nikah jeh.. Tapi ya itu, mikir aja… kayaknya umur saat ini sudah saatnya. Awal 30-an itu saya lebih milih memantapkan karir, jadi harus dalam beberapa tahun ini udah dapet calon buruh suami yang mumpuni.

Kriterianya yang seperti apa sih…. Errrrr…. susah jelasinnya, karena saya gak butuh yang bisa hidupin saya. Lah saya sendiri bisa ngidupin diri sendiri hingga satu keluarga saya kok. Jelas saya butuh yg bisa bertanggung jawab untuk urusan rumah tangga, punya semangat kerja yang sama kayak saya, saya gak suka orang males soalnya. Trus, yang pengertian. Mengerti bahwa mungkin saya tak akan selalu bisa mengurus rumah dengan baik karena kerjaan kantor dll yang sudah cukup menyita waktu, sehingga mengerti dengan sangat bahwa pembantu RT adalah keharusan! *nyengir* Kemudian, setidaknya punya kemampuan teknis di bidang kelistrikan, otomotif, dan lain sebagainya sehingga bisa lebih hemat nantinya, dan alokasi dana untuk itu bisa untuk bayar pembantu saja. 😀
Hehehehe…. Sepertinya sudah berlebihan ini kriterianya. Tapi ya itulah… Namanya juga pengennya yang begitu…

Yang jelas, saya lebih suka yang bisa mendengarkan saya. Tidak mengacuhkan saat saya sedang ingin bercerita. Sekonyol apapun cerita saya, saat saya butuh didengarkan dia ada untuk saya. Hanya itu sebenarnya yang sangat saya inginkan dari pria yang bakal jadi cinta sampai mati saya. *sigh* Karena saya gak butuh yang bisa ngidupin saya, gak butuh yang ngobral kata-kata cinta sampai selangit, gak butuh yang ngomong kalau dia mau bertanggung jawab untuk saya, lah saya sendiri bisa menanggungjawabi diri saya sendiri kok. Bisa gak ya nemu yang kek gini….. *wondering*

*apdet blog di awal tahun* (–“)

**apdet apaan iniiiiiii**

#abaikansaja

290710

Beberapa malam kemaren, entah sial atau beruntung saya bisa bertemu seseorang, lengkapnya cinta monyet sayah jaman dahulu kala. Jaman saya masih jadi monyet berseragam putih abu-abu.
Ternyata abang satu ini, udah sejak lama mencari tahu nomer hape saya melalui sodara-sodara tercinta saya. *sigh*
Berikut cuplikan percakapan kami, khususnya bagian yang menarik.

Mr. X : “kamu udah punya pacar?”
Saya : *angguk2 kepala*
Mr. X : “oh gitu toh… kalo gitu kapan putus?”
Saya : *gedubraks* “lah saya ajah masih pengen senang-senang jeh sama dia,belum terpikir tuh yang kayak gituh”
Mr.X : “kalo dah putus, bilang-bilang yah”
Saya : heeeeehhhhh…. “emangnya kenapa bang?”
Mr. X : “biar saya bisa deketin kamu lagi”
Saya : *keringat dingin* “ah… bisa aja kamu bang” *pasang senyum manis nan licik”
Mr. X : “btw, kamu dah rencana mau merid sama dia?”
Saya : *senyum manis nan licik lenyap seketika* :meriiiiiid? oh my fukin goat! yang kayak itu gak ada dalam rencana masa depan saya bang”
Mr. X : “lho kenapa bisa gituh?”
Saya : “well, saya lebih memilih sendirian deh bang. emangnya harus merid ya bang? waduh…. tunggu saya khilaf dulu deh”
Mr. X : “ya udah, kalo udah khilaf kasih tahu saya yah…”
Saya : “maksud loe?”
Mr. X : “biar saya bisa lamar kamu”
Saya : *cape deh*

Kok mulai ada yang udah ngerasa dikejar-kejar umur buat nikah yahhhh…. Dan kenapa harus milih sayaaaaahhhhhhhhhhhh *garuk-garuk tembok*