Tentang Sorong yang tak lagi aman

Beberapa hari yang lalu, saya masih menganggap kota ini adalah kota yang sedikit nyaman dan aman buat saya. Well, sepertinya saya masih berpikiran kalau kota ini masih sama seperti 10 tahun lalu sebelum saya tinggalkan untuk berangkat ke Jogjakarta.

Sorong dengan segala hiruk-pikuknya memang merupakan kota yang mulai menggeliat untuk menjadi kota modern di kawasan barat Papua ini. Pembangunan dimana-mana, hal ini bisa dilihat dari semakin beratnya badan saya yang tiap hari harus makan debu pasir dari truk-truk yang hilir mudik membawa pasir kemana-mana. Tiap hari sodara-sodara!!! #pentingbanget

Tak heran bila mulai banyak waralaba-waralaba yang sudah melirik kota ini. Dari waralaba kuliner, hiburan (karaoke HepPup), sampai toko buku yg saya sering lihat di Jogja pun sudah ada di Sorong.

Hebat! Semakin maju saja kota tercinta ini. Sayangnya, saya lupa bahwa seiring dengan kemajuan yang ada. Rupanya tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat di kota ini. Berdampak pada perilaku konsumtif masyarakat yang sadar gengsi mungkin iya. *gubraks*

Saya juga lupa bahwa semakin maju suatu kota, juga dibarengi dengan semakin canggihnya orang-orang yang kepepet karena tekanan ekonomi ataupun orang-orang yang hanya butuh duit buat senang=senang untuk melakukan kejahatan.

Jujur saya selalu merasa aman-aman saja berkendara motor saat malam hari di kota tercinta ini. Bagi saya, di Jogja pun yang seperti itu saya selalu selamat bila keluar malam sekedar berjalan-jalan hingga kalau saya berniat untuk ngenet di warnet sampai pagi, apa lagi kalau di kota Sorong ini. Kota yang merupakan tempat besar saya selama ini, yang setahu saya dan seingat saya masih lebih aman dari Jogja.

Ternyata saya salah BESAR!!! Saya lupa akan dampak dari semakin majunya kota ini. Orang menjadi lebih nekat lagi karena kebutuhan-kebutuhan pribadinya mulai menekan moral dan akal sehat,

Tanggal 7 Februari malam sekitar jam 22.30, saya ditabrak dan dijambret di jalan, saat hendak pulang rumah. Scoopy saya hancur bagian kanan. Kaki dan tangan saya luka-luka cukup lumayan. Tas berisi dompet, ATM2, kartu kredit, SIM, KTP, uang cash, hp Nokia dan Blackberry saya pun lenyap dibawa lari. Tapi itu tak seberapa artinya dibanding perasaan saya yang hancur karena kota ini, kota Sorong yang saya pikir lebih aman dari kota mana pun ternyata sudah sedemikian parahnya.

Melaporkan masalah ini ke kantor polisi pun sudah saya lakukan. Tapi saya tak bisa berharap banyak. Tidak mengingat dengan baik no polisi motor yg nabrak itu, bahkan jenis motornya pun saya masih samar-samar. Entahlah apakah para polisi itu bisa menemukannya penjambretnya atau tidak. Saya skeptis akan hal itu.

Dan saya baru tahu saat di kantor polisi, bahwa sudah banyak korban-korban seperti saya. Kata para polisi, jangankan di malam hari, di siang hari pun jambret-jambret ini berani beraksi. Dan sasarannya selalu para perempuan seperti saya yang hidupnya di atas motor. Ada yang pernah diseret di jalan karena masih megang tasnya yg mau dijambret. Ada yang ditendang dari motor. Ada yang kayak saya ditabrak dulu, kalau udah jatuh pura-pura mau nolong padahal cuman nolong tasnya doang trus dibawa kabur.

Untuk lelaki mabuk yang menabrak saya. Hancurkanlah diri mu sendiri dengan uang hasil rampasan itu. Belilah minuman yang bisa bikin kamu bodoh selamanya sehingga bokong mu lah yang jadi pusat nalar dan akal sehat kamu.

Untuk para perempuan pengendara motor di Sorong, berhati-hatilah. Jangan biasakan naruh barang penting di tas saat mengendarai motor. Taruh saja di bawah jok. Bila mengendarai motor pastikan selalu melihat ke spion untuk mengetahui pasti bahwa tidak ada pengendara motor lain yang terlihat aneh mengikuti anda. Lindungi barang berharga anda terutama juga nyawa anda. Bila perlu beli semprotan merica atau apalah, yang bisa dijangkau dan digunakan bila anda berada pada posisi berbahaya (dipepet misalnya). Kalau saya sendiri pengen beli senjata aja rasanya… \(–)/ biar bisa nembak sekalian orang-orang model gitu. *sigh*

 

Yah… pada akhirnya saya hanya bisa ngelus-ngelus dada (–‘)

Kota ini, Kota Sorong ini ternyata sudah tidak aman lagi. *hiksss T_T

4 thoughts on “Tentang Sorong yang tak lagi aman

  1. Apakah daerah kilo 8 sudah separah itu? Tapi yah begitulah Papua semenjak Otonomi Khusus diberlakukan Walikota dan Bupati Sorong malas tau. Dari lahir sampai pulang terakhir thn 2010, jalan depan pelabuhan msh sama. Pantai depan lapagan hoki sdh tidak seindah dulu. Saya juga lahir di Sorong. Desember thn ini mau pulang, untungnya rumah di Sorong daerah belakang RSU kampung baru dan kalo di Sorong saya tidak suka keluar malam, jam 9 maksimal sdh harus dirumah, karena saya tahu banyak orang mabuk berkeliaran…wkwkwkkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s