Papa

Sudah dua kali (atau lebih,saya lupa) saya memposting tentang sosok satu ini di blog abal-abal ini. Setiap saat saya selalu kangen pada nya, saya tumpahkan perasaan itu di blog ini.

Sosok papa bagi saya adalah sosok yang sangat saya banggakan. Karena beliaulah saya tercipta di rahim ibu.

Papa adalah seorang workaholic. Gila kerja. Bisa jadi karena tuntutan hidup, tetapi juga pada dasarnya sosok satu ini tidak bisa sehari pun tanpa mengerjakan sesuatu. Minimal jika tak melakukan pekerjaan, beliau akan menyusun pemikiran-pemikiran yang saat itu sedang terlintas untuk merencanakan sesuatu yang bisa menghasilkan.

Saya belajar banyak hal dari sosok satu ini. Untuk masalah pelajaran ketika masih di sekolah, ibu yang paling berperan penting. Tetapi papa, lebih mengajarkan hal-hal lain di luar mata pelajaran sekolah. Bagaimana berjuang untuk hidup, bagaimana saya bisa menjadi perempuan yang kuat, bagaimana mengambil keputusan sendiri, dan lain sebagainya.

Kadang saya sendiri agak heran dengan cara beliau mengajarkan saya.

Saat ke pantai, supaya saya tidak takut dengan air laut dan berusaha agar bisa berenang, beliau selalu membawa saya dengan mengenakan bantal berenang yang terbuat dari bekas ban dalam mobil ke tengah-tengah laut, dan melepaskan saya sendirian di tengah laut untuk berjuang kembali ke bibir pantai. (sayangnya metode ini juga tidak membuat saya terlepas dari ketakutan itu dan tetap tidak bisa berenang)

Untuk membuat saya berani di depan umum, di setiap acara yang mengundang papa, saya selalu dibawa serta. Dikenalkan pada orang-orang penting yang ada di acara tersebut. Dan apabila papa diminta untuk menyumbangkan suara, selalu beliau mengundang saya naik menemani duet bersama. Saya selalu duduk di depan bersama papa, bila beliau menghadiri undangan-undangan apapun.

Ketika papa ingin mengetes kemampuan berbahasa Inggris saya (yang pas-pasan ini), kadang saya sering ditinggalkan sendirian dengan teman-teman luar negerinya. Sehingga mau tak mau, saya harus berusaha mengajak mereka ngobrol walaupun dengan bahasa Inggris campur bahasa tarzan plus bahasa tubuh. *halah*

Papa tak pernah marah walau motor satu-satunya yang dimiliki sering saya jatuhkan, hanya supaya saya belajar bahwa tak ada yang mudah dalam hidup ini. Bisa mengendarai motor pasti jatuh bangun dulu baru mahir.

Beliau selalu mendorong saya untuk banyak membaca. Sejak saya bisa membaca (thanks to ibu yang membuat saya bisa membaca pada usia 3 tahun), setiap kali beliau ke luar kota pasti membelikan buku atau komik sebagai oleh-oleh untuk saya. Langganan majalah Bobo juga karena papa. Meskipun akhirnya di kelas 5 SD langganan BOBO saya dihentikan karena langganan majalah Papa naik harganya. Ujung-ujungnya saya sering rebutan dengan Papa tiap kali majalah kesayangan nya datang.

Saat saya masih kanak-kanak,  secapek apapun Papa, tak pernah saya tidur tanpa didongengi terlebih dahulu. Dari cerita Cinderela,Rapunzel, Jack dan pohon kacang ajaib, Moby Dick hingga bawang putih dan bawang merah.

Setiap acara kemping di hutan bersama murid-muridnya, saya selalu diajak. Hanya saya tidak pernah diajaknya pergi memancing di laut, karena itu bagiannya adik saya yang laki-laki.  dan karena saya tidak bisa berenang. L

Rumah kami penuh dengan tanaman dan pohon buah. Semua itu Papa yang menanam dan merawatnya. Sehingga kami bisa merasa sangat kaya karena memiliki pohon durian, mangga, rambutan, nangka, kedondong, sukun, pisang, salak, dan nanas. Untuk itu beliau selalu bergurau, “berbahagialah yang menanam, karena merekalah yang akan menuai”. Tanaman bunga kami juga banyak. Tetapi didominasi oleh anggrek-anggrek kepunyaan Papa. Ketika Papa mulai jatuh sakit dan tak mampu merawat lagi, beliau selalu berpesan agar tak lupa menyirami bunga-bunganya. Katanya, “mereka juga makhluk hidup, rawatlah dan lihatlah apa yang akan mereka berikan sebagai balasannya”.

Papa tak pernah marah, walaupun saya sering membuat keputusan-keputusan bodoh. Beliau sering mengatakan, “Papa ini seperti pemadam kebakaran. Kalau ada masalah yang sangat besar dan tidak dapat lagi diselesaikan, baru Papa turun tangan”.

Saya selalu tahu, setiap kali saya disakiti oleh lelaki pujaan hati saya, masih ada sosok pria satu ini tempat saya kembali. Karena cintanya tak bersyarat. Tangannya selalu akan memeluk saya saat saya dalam kondisi sehancur apapun.

Karena kerja keras beliaulah, saya bisa menempuh pendidikan yang baik. Dan betapa bangga dan terharunya dia ketika akhirnya saya mampu menamatkan sekolah saya di kampus biru.

Impian beliau masih banyak yang ingin dicapai. Namun karena kerja kerasnya terlalu berlebihan, faktor kesehatan sering diabaikan. Bagaimana tidak jika sehari-harinya penuh dengan kegiatan di sekolah, kampus, gereja dan masyarakat.  Totalitas dan loyalitas dalam pengabdian, itulah yang membuat saya kagum padanya.

Sekarang, papa saya telah hampir setahun sakit.

sebelum sakit

 

setelah sakit beberapa bulan berikutnya,

Hati siapa yang tak hancur. Fisik yang besar dan kuat itu, yang selalu membuat saya merasa aman, tergerus habis karena penyakit tumor otak yang dideritanya. Dalam keadaan terbaring di ICU setelah sadar dari koma berhari-hari pun, ketika melihat saya, tangannya akan menepuk-nepuk pundak saya, mengelus kepala saya dan memegang tangan saya dengan kuat. Walaupun tak bisa berbicara, saya yakin, bahwa dia sedang berkata kalau saya tak boleh takut.

Papa, bagi saya adalah papa yang super. Selalu!

3 thoughts on “Papa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s