Mudahnya menggeneralisasi orang.

413650229_31ef379b0b

Apa sih yang ada di dalam benak kita ketika melihat kelakuan orang di hadapan kita yang tidak sesuai atau berbeda dengan nilai-nilai yang kita anut?

Apa langsung memasukkannya pada kategori-kategori yang telah kita buat untuk mengklasifikasikan orang berdasarkan perilaku yang mereka tampilkan saat itu?

Saya kira tidak semua orang akan berbuat begitu kan? Langsung men-jugde orang atas dasar subyektifitas kita tanpa melihat lebih dahulu ke dalamnya. Hanya melihat dari luar saja.

Tanpa saya sadari, kadang saya juga sering berbuat hal yang sama. Namun, semakin bertambah umur (atau berkurang?) semakin banyak yang saya pelajari. Semakin sering saya bertemu orang dengan latar belakang yang beranekaragam. Hal itu pun pelan-pelan berkurang.

Lantas, ini membuat saya menjadi semakin tahu bahwa jangan menilai orang dari luarnya saja.
Dan juga meskipun ada perilaku seseorang yang berbeda dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat, belum tentu dia orang tidak baik. Belum tentu dia tidak dapat berubah nantinya.

Bagi saya, cara untuk menghindari generalisasi dini pada orang lain berdasarkan kategori-kategori yang kita buat sendiri (misalnya, suku, ras, agama, dll) adalah dengan berbaur atau bergaul lintas kategori itu sendiri. Agar kita tahu sendiri seperti apa orangnya, sifatnya, nilai-nilai yang dia anut, dan lain sebagainya.
gb3
Itulah mengapa saya sedikit bersyukur pernah tinggal di sebuah asrama mahasiswi di Jogja ini (Syantikara) dan juga bergabung dengan Cah Andong. Sedikitnya saya belajar mengenal orang lain dengan sifat-sifat serta perilaku yang berbeda dari apa yang saya bayangkan. Kenal orang lain dari Sabang sampai Sulawesi (karena kalo Maluku dan Papua yah little-little i know lah). Memang ada stereotype-stereotype tertentu tentang suku-suku lain, kalau kita memandangnya secara sempit tanpa melihat bahwa tidak semua seperti itu, kita sendiri akan terjebak dalam pribadi kita yang suka main generalisasi.

sepertinya saya belum menghajar tukang parkir yang dulu itu😈

gambar 1 dari sini

gambar 2 dari situ

10 thoughts on “Mudahnya menggeneralisasi orang.

  1. “Dan juga meskipun ada perilaku seseorang yang berbeda dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat, belum tentu dia orang tidak baik. Belum tentu dia tidak dapat berubah nantinya.” [*saya kok bingung dgn kalimat nyang inihh yakk, mangsute gimana to..?*]

    Btw, saya juwega bersyukur bisa tinggal (dinas) di Jogja, karena saya orang Klaten.

  2. ochaaaaaaaaa…. *peluk ocha*

    aku bs memahami gimana sebelnya dan pedihnya ples judhegnya, ngadepin orang2 yg suka generalisasi spt itu. makanya aku salut bgt sama ocha yg bisa merefleksikan ke diri sendiri. salut.

  3. Saya sudah pernah kerja di hampir semua pulau besar di Indonesia (kecuali Papua), dengan orang2 dari berbagai tempat di Indonesia, tapi tetap saja sikap “menggeneralisasi” terhadap suku-suku itu ada ya? BTW, pelan2 saya coba mengikisnya..🙂
    Salam

  4. halo mba, salam kenal.
    kalo di ilmu psikologi, orang mempersepsi orang lain dan menggeneralisirnya adalah suatu hal yang manusiawi. hal ini sesuai dengan teorinya hukum gestalt…

    ya begitulah manusia, susah melepaskan sifat itu, tapi dikurangi mungkin bisa🙂

  5. Foto kedua sepertinya bukan kata “berpendidikan rendah”. Yang sering saya lihat dikatakan “berperadaban rendah”, yang langsung menunjukkan pada “cara hidup” yang masih alami dan kemudian dikaitkan dengan “beradab” dan “peradaban”.

    Kenapa, Cha ? Sering digeneralisasi dengan stereotype yang negatif ?

  6. Nice blog!
    Btw, disini lagi gencar dilakukan “STOP LABELING CAMPAIGN” yang menghimbau orang2 untuk berhenti menilai seseorang baik itu dari ras, penampilan fisik, hingga pakaian yang mereka kenakan.

    Kapan ya di Indonesia ada kampanye kayak gitu ?
    Situ bikin dong jeung….hehehhe….

  7. saya rasa manusiawi. dan ini tentang psikologi manusia. mereka, saya, anda bereaksi terhadap apapun dari lingkungan. anda bisa bilang jangan menjudge berdasar stereotype karena anda mempunyai pengalaman tertentu dengan banyak macam ras dan jenis orang. akan berbeda lagi dengan orang lain yang juga mempunyai pengalaman yang dirasakannya.

    anda tidak bakal lepas dari judge by its cover. karena pasti selalu ada kesan.. baik kesan pertama, kedua dan seterusnya. itupun tidak menjamin anda mengetahui sebenarnya siapa orang ini-itu. bahkan para psikolog pun melakukannya.

    psikolog belajar mempelajari/meneliti tingkah laku manusia. Dalam menyelesaikan masalah klien berdasar pola2 tingkah laku dan apa yang dirasakan oleh kliennya. psikolog menanyakan ini itu untuk mendapatkan data, kemudian memberikan solusi berdasarkan pola2 dari data yg diterima dari kliennya.

    hihi,
    pernah berpikir atau ngomong (paling-tidak) seperti ini,
    “ih, pakaiannya terlalu minim. dasar cheap!!!”
    “berdasi tapi korupsi”
    “cantik2.. oon”

    atau tingkah-laku anda berubah/berbeda ketika bertemu dengan
    Orang yg tinggi besar,
    orang kurus rambut acak2an,
    bertemu polisi saat razia,
    tukang parkir,
    pengemis

    anda akan ber-respon berbeda terhadap pola dan stereotype tertentu.

    dan saya pun juga sedang menjudge anda ^_^ dari tulisan anda. mungkin nanti akan berbeda lagi jika sudah membaca beberapa tulisan lainnya.

    yang terpenting saya rasa adalah bagaimana saya, anda juga semua yg membaca comment ini.. untuk hormat-menghormati terhadap siapapun yang kita temui.

    aji
    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s