Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang ditanyakan pada orang yang berasal dari wilayah Timur Indonesia (esp. dari Papua)

Oke. Ini hasil ngobrol gila2an bersama sahabat saya dan adek gila saya. Terus terang, seringkali kami yang berasal dari bagian timur Indonesia ini, menemui orang-orang dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang ’bodoh’ hingga yang ’paling bodoh’, yang bisa membuat kami mengeluarkan pandangan ’where the hell are you coming from’ atau pandangan ’dulu geografi dapet berapa sih kok begok banget kek gini’.

1. Di Papua itu masih ada yang makan orang yah?

Omfg. Hellow….. hari gini gitu lho. Selain nasi tentu saja ubi dan sagu masih lebih baik deh. Kalau ada yg nanya kayak gitu, biasanya saya dan teman-teman yang iseng suka menjawab dengan kata IYA. Iya masih ada yang makan orang disana. Hueheuheue.

2. Disana ada warung gak?

Swear. Ini baru diceritakan temen saya orang Kupang. Gak bisa berkata apa-apa deh kalo ini😀

Emang susah kalau yang nanya emang bukan orang yang suka jalan- jalan keliling nusantara ini. Jadi gak tau, di kota lain sana kayak gimana kehidupannya.

3.Sorong tu dimana sih? Tual itu mana sih? Maumere itu Papua yah?? *gubraks*

Jujur aja temans. Kadang saya dan beberapa orang timur yang saya kenal agak sakit hati gitu deh. Gimana nggak. Lah, pelajaran geografi itu yang membuat kita di ujung timur Indonesia sana jadi tahu Solo itu dimana, Magelang itu dimana, Medan itu ibukotanya Sumatra Utara, dan YANG DISINI GAK TAU KALO TUAL ITU MALUKU TENGGARA, TERNATE ITU MALUKU UTARA, dan AMBON ITU MALUKU TENGAH???!!!

Okey, mungkin ada beberapa yang emang gak tau. Tapi yah… secara disini harusnya lebih maju. Atau mungkin karena kita yang di daerah terpencil sana bisa liat di tivi, ada banjir di Jakarta, Samarinda, dan tempat-tempat lain di bagian barat Indonesia jadi lebih hafal kota-kota di bagian barat karena lebih sering disiarin secara lebih dekat ke pusat

Dan kalian hanya tau dari tivi tentang PAPUA kalau bukan dari acara jalan-jalan petualangan, filem DENIAS, dan berita yang lebih mendapat porsi di media tentang gerakan papua merdeka, orang minta suaka ke luar negeri, dan lain sebagainya sehingga berpikir bahwa Papua identik dengan separatisme dibandingkan melihat apakah otonomi khusus yang sudah dikasih pemerintah itu efektif tidak disana, bagaimana daerah-daerah pedalaman di Papua sana, yang jarang banget diliput oleh media-media kecuali ada kasus kelaparan masyarakat. Liputan bola aja susah untuk disiarin live dari Papua sana. *kecemburuan sosial mode ON*

Sementara tiga dulu. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan ’bodoh’ lainnya tapi jadi lupa pas ngetik ini😀

Akan di update lagi, hehehe. Biar kalau dah tau, jangan nanya-nanya kayak gitu dong.

papuachipped

gambar nyulik dari sini

40 thoughts on “Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang ditanyakan pada orang yang berasal dari wilayah Timur Indonesia (esp. dari Papua)

  1. @catshade:
    Ouw… the famous catshade😯

    Atas nama budaya boleh kan?

    Orang Papua itu sudah biasa ya jalan-jalan telanjang di muka umum?😀

    *berpikir untuk memasukkannya ke daftar pertanyaan*

  2. foto diposting ini bagus sekali, pasti saudara kita yang sedang memegang laptop sedang nge blog untuk berbagi informasi dengan inhabitant blogosphere. OK deh kita semua senang sekali dan mendukung setiap usaha untuk berbagi informasi

    dengan berbagi informasi tentu saja dunia akan lebih baik mengenal Papua dan pertanyaan pertanyaan bodoh tersebut kedepan tidak akan muncul lagi [maksudnya berganti dengan pertanyaan yang berbeda yang bisa jadi tidak kalah bodohnya]

    Ok … kita semua menunggu kabar dari anda dan saudara saudara kita dari Papua

    Salam Indonesia

  3. Mau tanya! Orang Papua itu sudah biasa ya jalan-jalan telanjang di muka umum?😀

    Ehem… mereka gak telanjang loh (tentu saja dalam sudut pandang mereka), dan sudut pandang kita soal “berbusana” tentu saja gak ngaruh di tanah mereka.:mrgreen:

    Katanya orang papua itu kuat “minum” ya

    Kalo secara kualitas sih rasanya peminum dari daerah lain juga sama kuatnya…🙄
    Mungkin kuantitatif ya, di Papua banyak peminum, karena minum2 itu sperti budaya pergaulan. Jadi minimal 2 teman bertemu, agenda beli (setidaknya) sebotol tu hampir pasti ada.😉

  4. dapet cerita kelakuan ‘oknum’ pelajar beasiswa pasca sarjana dari papua, dari temen yg ambil pasca sarjana otonomi daerah UGM.

    juga, gimana ‘licik’nya temenku yg berhasil menjual laptop seken seharga baru. tp emg laptopnya masih bagus buanget sih, ples bonus 40 giga bokep.😆

    omigoooot, omigoooot, omigooottt.

    tapi tentu saja itu oknum, ocha….:mrgreen:

  5. @ndebakulsempak:
    nah itu jensen dan jawab😀 di tiap daerah juga ada peminum kan. klo kuat minumnya juga dimana2 sama. ada yg kuat ada yg sok kuat *lirik PeTeeR*

    @jarwadi:
    iya mas, semoga di Papua makin banyak yg melek internet, tapi meleknya yang positif2 jg jangan yang negatif2 aja.

    @yogie:
    disana jalan antar kabupaten kayak di Jawa sini gak ada mas. Kereta Api juga gak ada. Transportasi antar daerah yah kalo gak pake kapal ya pake pesawat. Trus kalo mau ke daerah yang terpencil, jalan satu2nya musti naik pesawat. Jadi sudah biasa orang sana kalo mau ke kota besar atau kembali ke daerahnya (yg terpencil) ya naik pesawat lah. Babi saja naik pesawat😆

    @didut:
    yoi mas, ni beberapa bulan lagi saya sudah pulang Papua. Udah gak sabar pengen nulis2 tentang daerah saya. Khususnya foto2 kemajuan disana juga gitu😛

    @jensen99:
    *peluk2 jensen karena rajin balas pertanyaan orang disini*😀

    @restlessangel:
    oh jadi temennya mbak memeth ini jual leptop sekennya ke mhs pasca dari papua dengan harga baru😆 (salah sendiri males nyari info harga leptop dong klo gitu).
    Tapi…. bonusnya lumayan tuh😈

  6. Oh YESSS….setuju banget teman!!!

    Yang aku maksud juga begitu…biar pakai koteka tapi bisa bahasa Ingris, Perancis, pakai komputer, listriknya aku pikir pakai tenaga matahari gitu…

    Duh…hatiku seneng banget dari segitu banyak orang indonesia aku menemukan lagi seorang yang seide denganku…

    Ayo lestarikan budaya asli Indonesia, Tendang Freeport (diganti sama orang Papua yg pakai koteka…yang mau kerja di situ harus pakai pakaian adat), lestarikan hutan alam…tendang juga pemilik HPH dari Jawa!!!

    HUUUUU….hidup Ocha!!!!!

  7. Oooow ada post semenarik ini rupanya. Trus bagemana dengan ikrar hiatus 2 minggu ituuu?
    *tendang pantat ocha (kedua kalinya)*😈

    1. Di Papua itu masih ada yang makan orang yah?….iseng suka menjawab dengan kata IYA.

    Memang nyatanya IYA.
    Di pedalaman Mamberamo masih ada suku yang kanibal kok.
    Pertanyaan tersiratnya tentu saja : Bisakah penduduk Papua di pusat-pusat peradaban (baca: perkotaan) dicapai oleh kaum kanibal?
    Nah kalo ini baru bisa dijawab dengan TIDAK. (kecuali Sumanto transmigrasi ke sini)

    2. Disana ada warung gak?

    Ada.
    Tapi warung-warung dengan kualitas terburuk malah ada di Jayapura, ibukota provinsi Papua. Satu2nya pengalaman saya keluar Jayapura cuma ke Merauke, dan disana secara keseluruhan kualitas warungnya 5 kali lipat warung di Jayapura.
    Mungkin ini karena (entah kenapa) pedagang yang datang ke Jayapura itu kok ya lebih idiot daripada yang datang ke kota-kota lain di Papua.

    3.Sorong tu dimana sih? Tual itu mana sih? Maumere itu Papua yah?? *gubraks*

    Ehm..😳
    Kalo ini saya cuma tau posisinya Sorong saja (di kiri kan? *luffy/zoro mode on*).
    Yang dua lagi asli gak tau. Lha wong rumahnya Jensen saja setelah kunjungan kesekian belas baru saya hapal jalannya je.😆

    @juliach

    Ayo lestarikan budaya asli Indonesia,..

    Barcelona is not Spain.
    Papua is NOT Indonesia.
    Tanyakan pada orang Papua mana saja yang sampeyan temui, setuju tidak dengan pernyataan ini. Prediksi saya, dari sepuluh tertanya, sebelas diantaranya akan menjawab ya.

    Tendang Freeport (diganti sama orang Papua yg pakai koteka…

    Hohoo maaf merusak mimpi indah sampeyan, tapi kalaupun Freeport bisa ditendang, bukan Indonesia atau Papua yang akan menendangnya, tapi Inggris atau Australia.
    Dan, oh, tidak akan “diganti sama orang Papua”, tapi diganti sama orang British Petroleum. Pekerjanya bisa saja orang Papua, tapi tetap saja budak bule. Cuman ganti bendera saja bulenya.

    …tendang juga pemilik HPH dari Jawa

    Tendang juga mahasiswa Papua keluar dari Jawa.😎

  8. @Fritzer:

    Barcelona is not Spain.
    Papua is NOT Indonesia.
    Tanyakan pada orang Papua mana saja yang sampeyan temui, setuju tidak dengan pernyataan ini. Prediksi saya, dari sepuluh tertanya, sebelas diantaranya akan menjawab ya.

    Maksudnya mbak juliach itu yah budaya lokal di Papua sana jangan sampai hailang begitu saja karena tuntutan modernisasi. Hanya bisa disanggap modern kalo dah pake baju. Padahal kan tidak mesti begitu. Bukan begitu mbak juliach???

    Hohoo maaf merusak mimpi indah sampeyan, tapi kalaupun Freeport bisa ditendang, bukan Indonesia atau Papua yang akan menendangnya, tapi Inggris atau Australia.
    Dan, oh, tidak akan “diganti sama orang Papua”, tapi diganti sama orang British Petroleum. Pekerjanya bisa saja orang Papua, tapi tetap saja budak bule. Cuman ganti bendera saja bulenya.

    Menjadi budak bule saya kira tidak selamanya tidak baik lho. Biarpun istilah dininabobokan katanya berlaku saat Belanda masih di Papua, tapi kata mama saya jaman itu jaman paling enak dibanding jaman Indonesia masuk. tanya ken apa?😆

    Tendang juga mahasiswa Papua keluar dari Jawa

    Tendang juga pantatnya orang Jawa yang tukang protes banyak dari Papua😈😆

    @Okta:
    Silahkan aja okta. Gambarnya oke kan😉

  9. kekeke…. kadang kita repot di geografi dan berita2 di tipi juga kadang memberitakan tidak spesifik, wong aku ngaku dari cianjur aja masih ada yg nanya :

    Dekat dengan rumahnya GUSDUR Dong *gubrak* padahal khan itu CIGANJUR😀

    ya begitulah geografi kita😆

  10. Biarpun istilah dininabobokan katanya berlaku saat Belanda masih di Papua, tapi kata mama saya jaman itu jaman paling enak dibanding jaman Indonesia masuk. tanya ken apa?😆

    Ahem… AFAIK, Pada KMB agustus 49 (pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda), RI sudah menuntut integrasi Papua Barat, yang akhirnya diputuskan status quo sampai ada referendum.
    Mengantisipasi ini, Belanda kemudian menjalankan program pembangunan besar2an di Papua (yg sebelumnya hanya diduduki) dengan harapan merebut hati rakyat menjelang referendum. Politik ini diantaranya tertuang dalam keputusan Ratu yang disebut Besluit Bewindsregeling Nieuw Guinea.
    Masa 10 tahunan (50-awal 60an) ini yang sering diingat para generasi tua Papua sebagai “the good old times”. Apalagi karena dibandingkan dengan pemerintah (dan tentara, tentu saja) RI yang kemudian masuk dengan “mental penjajah” (mengerti maksudnya?), tentu saja ‘jaman Belanda paling enak’😉
    CMIIW

  11. Menjadi budak bule saya kira tidak selamanya tidak baik lho. Biarpun istilah dininabobokan katanya berlaku saat Belanda masih di Papua, tapi kata mama saya jaman itu jaman paling enak dibanding jaman Indonesia masuk. tanya ken apa?😆

    Paling enak ya karena dininabobokan.
    Semua orang-orang tua angkatan 40-an di Papua memang bilang Belanda lebih enak daripada Indonesia. Itu jelas karena tahun 1940an adalah jaman penerapan Politik Etis. Ya jelas sudah kebagian enaknya. Di daerah lain juga begitu.
    Masalahnya dimana dongeng tentang enaknya belaian Belanda di Papua sebelum Politik Etis? Dimana orang Papua – seperti halnya orang Indonesia di daerah lain – tidak boleh memunculkan dirinya di daerah perkotaan. Ada yang berani menampakkan diri di jalan-jalan raya atau wilayah yang sudah dibangun Belanda, langsung tembak di tempat.
    Semua orang kok bicara seolah-olah orang Papua itu tidak pernah dibantai oleh Belanda, hanya karena tidak ada data historisnya.
    Yang dikedepankan cuma data-data tentang pembantaian oleh TNI saja. Yang Belanda punya mana?

    …kata mama saya jaman itu jaman paling enak dibanding jaman Indonesia masuk. tanya ken apa?😆

    Ini juga yang paling bikin saya muak. “Lebih enak dijajah Belanda ya, daripada Indonesia?”
    Disaat orang Indonesia diinjak-injak, mereka malah dimanjakan. Pada saat Indonesia merdeka, seluruh nusantara harus mulai dari nol, orang Papua tidak rela ikut berjuang dari nol. Tidak rela meninggalkan roti & keju Belanda. Merengek-rengek minta dimanjakan seperti halnya Belanda memanjakan mereka.
    Ada hak apa orang Papua minta perlakuan istimewa, sementara orang lain berjuang dari nol?
    Memangnya suku-suku lain tidak dibantai TNI? Memangnya orang Jawa tidak dibunuhi Suharto?
    Dasar manusia-manusia manja.

  12. @ Fritzter

    Sorry ye, kalo aku bilang kau berpikiran cupet.

    Dapet apa kau dari pengusaha HPH dari Jawa (Kebanyakan Cina Jawa)? Kenal ngak sama Andi Sutanto yg punya HPH di Sorong? Tahu ngak bagaimana dia dan keluarganya menghambur-hamburkan uangnya? Tahu ngak bagaimana dia dan keluarganya men-treat (duh lupa bahasa indonesianya) para pekerjanya PT. KLI/Kayu Lapis Indonesia?

    Itu baru satu belom yang laen.

    Jangan dihubung-hubungkan mahasiswa dari Papua yang belajar di Jawa! Mereka itu menimba ilmu tidak mengeruk hasil bumi dan lalu membawanya minggat begitu saja. Mereka itu tidak nyosot otak para dosen pake sedotan.
    Lagi pula mereka itu membayar (entah itu dari beasiswa). Jika pun beasiswa itu dari pemerintah indonesia, aku pikir itu wajar, karena buminya sudah dikeruk habis-habisan, culturnya diberangus dan diinjak-injak.

    Melek dikit dong sampeyan. Tolong tempatkan diri sampeyan selama 1 bulan saja dalam masyarakat suku Papua Asli. Pakailah koteka, berburulah babi, hiduplah seperti mereka di tengah hutan asri. Dan kau coba juga hidup seperti orang Papua Asli di tengah kehidupan modern.

    Jika aku bisa (mungkin aku bisa wujudkan jika aku pensiun nanti), pasti aku akan kembali ke Papua dan hidup seperti mereka di tengah hutan yang asri. Aku akan bawa turis bule (yang stress dgn kehidupannya di tengah kota besar) untuk hidup seperti mereka juga: memakai pakaian lokal, mencari sagu, mencari ikan, berburu, berperahu, berenang di laut yang biru (alat potret dan komputer boleh sih dibawa), mengajar anak-anak lokal,…

  13. @Juliach:
    Mbak, Fritzer itu hidup di Papua juga😀 Cuman agak kritis emang…

    @Jensen99:
    *menjura* mungkin seperti itu bro.

    @Fritzer:
    Duh.. pusing deh aye. gimana ya mas. jaman dulu apa emang orang Papua itu aslinya mengakui mereka orang Indonesia? kenapa yah gak ada namanya tokoh pergerakan kemerdekaan dari Belanda di Papua sana? Ini pertanyaan2 yang selalu ada dalam pikiran saya. Mungkin akan saya cari tahu nanti.
    Jangan bilang saya mendukung separatisme.. oh tidak. Cuman main logika dikit aja.

    Ada hak apa orang Papua minta perlakuan istimewa, sementara orang lain berjuang dari nol?

    Ada hak atas kekayaan alam yang luar biasa di Tana Papua yang pada jaman ORBA dibawa semua untuk memajukan pulau JAWA atas nama sentralisasi.😉

    *tangan di dada, nyanyi lagu Tanah Papua*

  14. @Juliach

    Sampeyan tinggal berapa puluh tahun di Papua?
    Saya baru seumur hidup.

    Kenal ngak sama Andi Sutanto yg punya HPH di Sorong? Tahu nggak bagaimana dia dan keluarganya menghambur-hamburkan uangnya?

    Saya pernah baca tentang cina HPH bernama Sutanto. Seingat saya namanya bukan Andi…., mungkin itu sodaranya.
    Saya belum tahu bagaimana dia hamburkan uangnya, tapi saya bisa bayangkan.
    Kenal gak sama Dortheus Asmuruf, Marten Sarwom, David Hubi, A.P. Youw ?
    Mereka beberapa dari koruptor-koruptor kelas kakap Papua, yang secara langsung nyedot dana Otsus, plus bonus-bonus dari tipenya Sutanto itu.
    “Tahu gak bagaimana mereka dan keluarganya menghambur-hamburkan uangnya?”

    Tanya itu sama si Jensen, dia kenal baik sekali dengan ketiga anak D.Asmuruf.

    Ini baru empat, “belom yang laen”.

    Cina-cina itu bisa merajalela ya karena pejabat-pejabat orang Papua sendiri yang rakus sogokan dan proyek.

    Tapi tidak satupun mahasiswa Papua yang mulia itu mengecam para pejabatnya yang korup ini.
    Demonya selaluuuuu saja soal Merdeka dan HAM. Padahal buanyak masalah-masalah yang harusnya jadi immediate concern di masyarakat, yang harusnya bisa disoroti dan dipecahkan andai ada yang mau demo.
    Lha soale kalo demo soal lain gak ada yang bayarin sih😉 .

    Jangan dihubung-hubungkan mahasiswa dari Papua yang belajar di Jawa! Mereka itu menimba ilmu tidak mengeruk hasil bumi dan lalu membawanya minggat begitu saja. Mereka itu tidak nyosot otak para dosen pake sedotan.
    Lagi pula mereka itu membayar (entah itu dari beasiswa).

    Lha sama saja. Pendatang (baik penjual bakso maupun pengusaha HPH) yang ke Papua juga bayar. Malah kalo bagi pendatang transmigrasi, mereka justru dipaksa ke Papua.
    Kalau dengan gampangnya mencomot pengusaha cina sebagai representasi warga pendatang di Papua, ya jelas saja image orang Indonesia jadi busuk sekali.
    Apalagi kalau nyomotnya dari “jauh sana” tanpa melihat langsung realita di masyarakat.

    Jika pun beasiswa itu dari pemerintah indonesia, aku pikir itu wajar, karena buminya sudah dikeruk habis-habisan, culturnya diberangus dan diinjak-injak.

    Itu semua terjadi pada semua suku bangsa di Indonesia.
    Lagipula yang secara literal “mengeruk buminya” itu Freeport, atas restu Suharto (dengan mengorbankan Sukarno dan jutaan orang Jawa dalam pemberantasan komunis).
    Terberangusnya kultur orang Papua ini juga premis yang masih kabur. Dalam banyak kasus justru mereka sendiri yang meninggalkan kulturnya, demi mengimbangi globalisasi (seperti yang dilakukan suku-suku lain di Indonesia).

    Melek dikit dong sampeyan. Tolong tempatkan diri sampeyan selama 1 bulan saja dalam masyarakat suku Papua Asli. Pakailah koteka, berburulah babi, hiduplah seperti mereka di tengah hutan asri.

    Lho mereka yang asli hidup dengan cara itu gak memandangnya sebagai kekurangan kok🙄 .
    Masalahnya kan perbedaan standar. Kalo sampeyan yang biasa nonton TV di sofa empuk sambil ngemil kripik ya jelas saja merasa cara hidup mereka itu “serba kekurangan”.
    Kalau sampeyan benar-benar ingin mengadopsi sudut pandang mereka, justru cara hidup kita ini yang aneh. Badan kok ditutupi kain? Babi kok harus ditaruh di kandang terpisah dengan pemiliknya?

    …Dan kau coba juga hidup seperti orang Papua Asli di tengah kehidupan modern.

    Ya sama saja dengan suku-suku lain (Jawa, bahkan) yang asalnya dari daerah pinggiran lalu merantau ke kota: berusaha beradaptasi. Ada yang berhasil, ada yang tidak.
    Sejak jaman masih sekolah sudah terlalu banyak saya punya teman sekolah yang perantau dari pedalaman. Ya tipenya sama saja dengan Jawa-jawa kampungan dari daerah transmigrasi, apa-apa heran, gak lancar baca-tulis.
    Dan sama sekali tidak ada pengucilan terhadap mereka, kalau itu yang anda maksud. Malah kami semua selalu mendekati mereka duluan, membantu apa-apa yang sulit dimengerti dalam pelajaran, dsb. Tidak ada yang aneh.
    Yang aneh tentu saja kalau melihat dari kejauhan, atau dari balik layar TV, lalu sok menghakimi.

    Jika aku bisa……, pasti aku akan kembali ke Papua dan hidup seperti mereka di tengah hutan yang asri.

    Anda yakin sudah pernah ke Papua? Kok ingatannya tentang Papua masih “bersudut pandang turis” begitu?
    Atau mungkin waktu kemari memang sebagai turis doang?

    @och4

    Ada hak atas kekayaan alam yang luar biasa di Tana Papua yang pada jaman ORBA dibawa semua untuk memajukan pulau JAWA atas nama sentralisasi.😉

    Tepatnya memajukan keluarga Cendana dan kroni-kroni Suharto.
    Tidak ada bukti bahwa orang Jawa itu “maju” pada jaman Orba.
    Yang maju cuma kaum elitnya.
    Penduduk Jawa asli malah digusur dan diusir kesana-kemari.

  15. @Juliach
    Permisi buang suara….!!!
    Mau nanya neh…mbak j sekarang tinggal dimana yah? udah nginjek papua seluruhnya belum? Udah tahu gak kalo kita juga bisa ngenet dari Dogiyai tuh pelosok papua di pegunungan bintang…?

    dengan sebagian besar tanah papua yang udah saya injek…jelas lebih realistis Jansen99 atau mas fritzter lah…Papua sekarang udah lain…pembangunan begitu gencar Orang papua sekarang udah lain…lebih makmur…lihat aja 2 atau 3 tahun lagi bakalan ada 3 atau 4 provinsi baru lagi di Papua…orang papua sekarang sebenarnya lebih merdeka…mereka bebas kamana saja…dan melakukan apa saja…punya banyak uang….mereka dikasih kesempatan seluas-luasnya untuk mengenyam pendidikan dimana saja, menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan pokoknya tuan diatas tanah sendiri…

    Soal orang-orang bodoh dengan pertanyaan bodoh mereka…gimana kalo saya usulkan mereka ke laut aje…..coba tanyakan SD nya sekolah dimana tuh?

    jangan mencuplik hal kecil untuk dijadikan potret keseluruhan suatu keadaan…sebagian potret papua yang belum maju bukan wajah keseluruhan papua (MESKIPUN) memang papua gak semaju di jawa sana semua pembangunan tuh kan perlu watku dan proses…segala hal berbading lurus dengan IPOLEKSOSBUD suatu daerah…jangankan papua di jawa saja masih ada daerah yang asli ndeso,pelosok….gak ada listrik gak ada telepon…semua warganya gak bisa bahasa indonesia

  16. @ngodod:
    karena sesama milanisti tak jadi aku mementung mu😛

    @yanderzon
    hiiiiii… saya suka lho baca blognya😀
    Betul itu. papua emang sudah lumayan maju. tapi coba liat, masih banyak akses jalan yang kurang dan lain sebagainya.
    kultur orang sana yg katanya fritz rata2 pemalas, bodoh, cuman tau mabuk. tapi itu saya agak kurang setuju. memang seperti itu. tapi kalau kita tetap membiarkan stigma itu melekat pada diri mereka, betapa piciknya kita. lebih baik bagaimana kita merangkul mereka itu. jangan sampai mereka terpinggirkan oleh pendatang (seperti saya) yang lebih maju.
    Post ini sebenarnya tentang orang2 yg tidak tahu di Papua itu sudah seperti apa kemajuannya. Pertanyaan2 mereka yang tentu saja aneh jadinya kan. Seperti kita ini masih hidup di jaman dulu yg belum ada akses informasi yang cepat. Dan media2 juga (khususnya mungkin televisi yah) yang saya rasa kurang banget informasinya tentang Papua dan kemajuannya. Coba persipura main tu siarkan dari Jayapura sana ka… tong juga pengen liat to.😆

    @Fritzer:
    Aduh ko betul sekali kawan, mana namanya mahasiswa2 Papua disini yang protes dengan kasus2 pejabat disana? Mungkin ada. Tapi cuman sedikit. Yang lain yah seperti yang kau katakan itu.

  17. @ Fritzter

    Memang Papua bukan tempat aku lahir dan tempat aku tinggal. Apa salahnya aku membuang banyak uang dan waktuku untuk bisa tinggal di hutan bersama orang suku lokal? Apa salahnya aku membayar orang lokal untuk bisa tinggal bersamanya?
    Selama ini aku enjoy dan aku merasa sangat puas sekali. Ketika aku tinggal di sana, aku tidak hanya sebagai tamu, aku pun ikut kegiatan mereka sehari-hari. Aku merasakan suatu kebahagian yang luar biasa. Jauh dari kebisingan, sangat asri, masih bersih karena aku masih bisa mengisap O2 murni. Mereka orang yang sangat baik dan ramah sekali. Mereka sangat simpatik.

    Apa salahnya aku ikut melestarikan budaya mereka?

    Apakah namanya pembangunan itu harus merusak budaya dengan pembangunan gedung-gedung pencakar langit? Dengan berpakaian tetapi kita tidak mempunyai rasa kemanusiaan? Pekerjaan yang keren tetapi kita tidak bahagia? Mempunyai banyak mobil tapi kita harus menelan pil penenang tiap hari?

    Aku punya pengalaman di Banjarmasin, ketika seorang klienku pengen melihat pohon rotan asli. Terpaksa aku harus membawanya masuk ke hutan. Perjalanan itu membutuhkan waktu 3 hari! Apa 10 tahun lagi, aku harus melihat tumbuhan rotan di salah satu Kebun Raya di Perancis?

    Apa salahnya pengembangan turist budaya/scientifik? Itu sumber masukan devisa yang paling mudah tanpa merusak alam.
    Yang aku maksud Papua harus tetap lestari, keluar dari kota sudah hutan kembali, pantai tetap indah dan bersih sejalan dengan pembangunan yang ada: jalan raya yang bagus, pendidikan bagi semua orang gratis, fasilitas kesehatan yang baik, komunikasi yang lancar, … dengan tidak meninggalkan adat istiadat mereka: architekture lokal, pakaian adat, kesenian, kebiasaan mereka,…

    Jadi aku setuju sama Ocha dengan foto orang Papua dengan pakaian lokalnya tapi mereka tidak buta tehnologi.

    Itu loh pesanku.

    Sorry, aku sangat marah dengan anda karena anda mengunakan kata “sampeyan”! Tahu ngak kata “sampeyan” itu berarti “kamu” untuk tingkat sosial yang lebih rendah! Itu anda sengaja atau tidak? Jika tidak sengaja, maka pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar!

  18. @ Yanderson

    Aku kenal Papua sejak aku mempunyai teman cewek dari Papua semasa kuliah dulu. Dia itu sippp bener! Orang kaya raya tapi orangnya cool sekali dan bisa menempatkan dirinya di level mana saja.

    Dari pertemanan itu, aku pun tertarik dengan undangannya untuk berlibur ke sana. Tahu sendiri harga tiket dari Jakarta ke Jayapura mahal sekali. Tapi tak menghilangkan semangatku untuk berkunjung lagi dan lagi. Karena aku ingin tahu semua tempat dan budaya di bumi ini, maka aku tidak bisa sering-sering berkunjung ke Papua.

    Satu tempat yang aku suka adalah tinggal bersama masyarakat lokal di hutan. Mereka itu simpatik sekali, dan hidupnya super coooollllll. Sehingga aku pun ikut-ikutan bergaya hidup seperti mereka: mencari sagu, ikan, babi hutan. Untuk menghormati mereka, akupun berpakaian seperti mereka.

    Aku tidak pernah bilang mereka itu bodoh. Aku sempat kaget karena ada orang Papua dengan pakaian adatnya mampu berbahasa Inggris dengan baik. Waktu itu aku sempat berujar, “Wah kau akan jadi guide yang hebat!”

    Aku juga paling suka dengan naik pesawat terbang kecil bersama babi. Ini merupakan kenangan yang manis dan tak pernah terlupakan.

    Tak jadi masalah masyarakat Papua itu maju, asal tidak meninggalkan budayanya dan alamnya yang asri. Karena aku masih ingin memperkenalkan Papua yang asli kepada anak cucuku (paling tidak).

    Senang berkenalan dengan anda lewat blog Ocha!

  19. Oh, masih ada lanjutannya…🙄

    @ Juliach

    Maaf, saya ikut mengomentari komen mbak ke Fritz & Yanderzon.🙂
    Saya kutip sedikit dari komen tgl 9:

    Tolong tempatkan diri sampeyan selama 1 bulan saja dalam masyarakat suku Papua Asli.

    lalu yang terbaru:

    Apa salahnya aku membuang banyak uang dan waktuku untuk bisa tinggal di hutan bersama orang suku lokal? […] Selama ini aku enjoy dan aku merasa sangat puas sekali. [..] Mereka orang yang sangat baik dan ramah sekali. Mereka sangat simpatik.

    Saya senang mbak punya pengalaman yang memuaskan di Papua sebagai turis lokal, walaupun mbak gak bilang di Papua sbelah mana. Yaa, karena ada ‘koteka’, saya asumsikan di Pegunungan Tengah. Wamena? CMIIW
    Tapi pertanyaanya, pengertian mbak ttg “suku asli/suku lokal” itu apa? Yang pake koteka dan berburu babi? Yang primitif? Soalnya, saya, Fritz dan Yanderzon yang di kota juga seumur hidup ini tinggal di tengah2 suku asli/lokal! Diatas “tanah mereka!”😀 Lebih detilnya Suku Tabi (orang Jayapura asli) dan Suku Sentani. Tentu saja tradisi mereka yg di pesisir pantai utara berbeda jauh dengan yang di pegunungan (walaupun sama pelihara babi), dan pola hidup mereka juga sdh dipengaruhi interaksi dengan suku2 pendatang, baik dari luar maupun daerah Papua lain selama puluhan tahun. Tapi tetep saja mereka suku asli.:mrgreen:
    Poin saya adalah, selama kami (yg pendatang ini) hidup “ditengah mereka” (walopun mereka minoritas), pengalaman tidak enak kami, (terutama Fritz) juga banyak. Paling sering menyangkut masalah agraria. Jadi, susah bagi kami tuk tll memuji “suku asli” secara generalisasi.:mrgreen:
    (bukan berarti kami tidak punya teman/pengalaman baik dgn mereka lhoo).
    JFYI, “orang2 asli berkoteka” yang mbak banggakan itu banyak sekali yang migrasi ke pesisir sini; tetap hidup secara ‘primitif’ di lereng2 pegunungan/pinggir kota dan menimbulkan banyak sekali masalah ekologi, sosial dan keamanan. (termasuk konflik dengan suku2 asli pesisir) 😉

    Dia itu sippp bener! Orang kaya raya tapi orangnya cool sekali dan bisa menempatkan dirinya di level mana saja.

    Yah, teman adalah teman, dan saya juga kenal & tau banyak anak Papua KAYA RAYA (kepslok) yang seperti itu. Smoga saja nanti mbak gak bilang kalo ortunya adalah pejabat daerah (Provinsi/Kabupaten) atau anggota dewan di Papua.😉

    Doh, panjang. Ini pasti kena moderasi nanti…😐

  20. @juliach dan blogger2 papua:

    Cuma mau komentar saja: sudut pandang orang luar yang tinggal sementara di suatu tempat dengan tujuan bersenang-senang/liburan rasanya memang sulit dipertemukan dengan sudut pandang orang (entah asli atau pendatang) yang menetap di sana sejak lama dan mencari penghidupan dari tanahnya.

    Ibarat orang Indonesia yang baru jalan-jalan ke Prancis (tempatnya mbak Juliach, betul?), biasanya yang dilihat2 dan dikenang adalah Eiffel, Arc de Triomphe, Louvre, atau Versailles; Tentu mereka nggak ‘ngeh’ dengan isu-isu serius macem ETA (Pemberontak Basque) atau gesekan rasial antara orang Prancis ‘asli’ dengan imigran2 asal Afrika Utara.

    Meski niatnya bagus untuk melestarikan budaya tradisional Papua (yang sama beragamnya seperti ‘budaya tradisional Indonesia’) dan menjadikan orang-orang Papua asli lebih berdikari, rasanya masalah sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekedar solusi ‘tendang Freeport dan pendatang2 Jawa yang menghisap kekayaan bumi Papua’.🙂

    Disclaimer: saya orang Jawa asli yang pernah menolak diajak liburan ke Papua atas asumsi kalau saya tidak akan bisa internetan di sana😛

    *digebukin jensen, fritz, dan yanderzon*

  21. Apa salahnya aku membuang banyak uang dan waktuku untuk bisa tinggal di hutan bersama orang suku lokal? Apa salahnya aku membayar orang lokal untuk bisa tinggal bersamanya?…Mereka orang yang sangat baik dan ramah sekali. Mereka sangat simpatik.

    Mungkin saya cuma orang yang sinis dan berhati batu, tapi rasanya nggak heran mereka terlihat begitu sangat baik, ramah, dan simpatik sekali (banget!)…lha wong dibayar!😆

  22. @Jensen:😳 dateng lagi dia😛

    Ya ya ya, pandangan orang luar memang beda2. Ada yg senang dengan Papua dan orang2nya. Ada pula yg sinis, tidak menganggap orang Papua itu juga sodara sesama org Indonesia. Ada juga orang yg kayak kita, amber (pendatang) di Papua sana, yang gak ada masalah apa2 dengan mereka, santai, gampang membaur, tidak dipersulit, dll. Tapi ada juga kan yg seperti Fritzer bilang didiskriminasi dll. Itulah hidup😀

    @Catshade:
    *ikutan gebukin kucing*😆

    Mungkin saya cuma orang yang sinis dan berhati batu, tapi rasanya nggak heran mereka terlihat begitu sangat baik, ramah, dan simpatik sekali (banget!)…lha wong dibayar!

    dimana2 sama aja kok. iya kan…

  23. @Juliach

    Gak ada yang salah dengan pariwisata. Gak ada yang salah dengan menjadi turis.
    Yang salah adalah dengan modal status turis itu lalu sekonyong-konyong menggeneralisasi orang Papua (yang mana? ada 243 suku asli di Papua) sebagai korban dari orang Jawa yang penokohannya diambil dari seorang pengusaha HPH.

    Sorry, aku sangat marah dengan anda karena anda mengunakan kata “sampeyan”! Tahu ngak kata “sampeyan” itu berarti “kamu” untuk tingkat sosial yang lebih rendah!

    Hoho, jadi hanya karena panggilan, terus sampeyan langsung merasa lebih rendah secara sosial daripada saya? Turut berbela sungkawa.😎 (kok saya yang dibilang cupet ?🙄 )

    Itu anda sengaja atau tidak?

    Ya iyalah.

    Jika tidak sengaja, maka pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar!

    Saya memanggil semua orang Indonesia di blogosphere dengan sebutan sampeyan. Baru sampeyan ini yang ngaku tersinggung. Itupun saya lihat cuma cara sampeyan buat ngeles, karena tidak bisa menanggapi komentar saya secara utuh (Kalo emang tersinggung, kenapa gak dari awal?).
    Begitu banyak isu yang saya angkat, dan sampeyan (lagi-lagi) cuma ceramah soal pariwisata? Tahukah sampeyan betapa basinya pariwisata itu buat kami yang tinggal di Papua?
    Di komen terbaru sampeyan, saya tidak melihat ada klarifikasi soal mispersepsi sampeyan yang sudah saya luruskan.

    Soal Freeport misalnya, sudah saya kasih pencerahan tentang bobot permasalahan sesungguhnya, sampeyan tidak menanggapi sama sekali. Malah dengan semena-mena menyebut saya cupet.
    Setelah saya memberi penjelasan panjang lebar pada tiap-tiap ide pokok dalam komen-komen sampeyan yang saya kutip satu-persatu, dan hanya satu yang sampeyan tanggapi (tentang status turis sampeyan), apakah sampeyan sekarang sudah bisa melihat, siapa sebenarnya yang “cupet” ?

    Ternyata sia-sia belaka saya, jensen, dan yanderzon berkomentar panjang lebar, karena setelah membaca kesaksian kami (yang sudah jelas lebih tau) pun sudut pandang sampeyan tidak berubah, masih melihat orang Papua sebagai ikan-ikan dalam akuarium.

  24. yang aku tahu, orang papua itu mempunyai bakat sepakbola yang luar biasa… kalo boleh aku berkata “TImnas Indonesia itu, tak ada apa2nya bila tidak diisi oleh sahabat2 kita dari Mutiara Hitam ini” Berani sumpah gw…
    Keanekaragaman Budaya itulah yang membuat bangsa ini kaya akan potensi….. Bukankan Indonesia itu ‘tercipta’ dari latar budaya yang berbeda-beda?

    Jangan lagi ada pertanyaan2 konyol macam gitu….

  25. Makanya, para pejabat negara tuh harus tahu bahwa jangan sok tahu ikut-ikutan seperti orang Arab yang aurat harus ditutup-tutupi. Itu adalah bukan budaya kita dan budaya kita seperti para orang Papua. Masa kita kalah sih sama orang Papua yang mau dan tetap melestarikan budaya Indonesia ?. Memang para orang asli Indonesia mah tentang telnjang adalah keindahan.

  26. for all: Papua dapat memberikan segalanya bagi negeri Indonesia yang di puja2 ini. Namun sayang sebagian besar orang Indonesia yang sudah dikayakan dan dimakmurkan oleh hasil bumi Papua tidak mengakui bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia . Image dari penduduk Indonesia lain kepada orang papua pun sangat membinatang ketika mendengarnya.Jika anda orang luar papua anda akan merasa bahwa itu hanya tulisan/kata-kata namun jika anda menjaji seorang papua anda akan merasa digambarkan sebagai binatang yang tidak mempunyai kemampuan ( akal sehat), tidak mempunyai pengalaman pendidikan yang baik,tidak berpakaian,tidak sehat jasmani maupun rohani. sungguh kami sangat menderita menjadi orang indonesia. anda sudah tau kami memiliki keunikan tersendiri. jika anda pernah belajar sejarah manusia indonesia maka anda akan tau jelas bahwa bangsa indonesia adalah bangsa keturunan mongolia sedangkan bangsa papua adalah bangsa melanesia namun karena bangsa indonesia ingin melampiaskan kerasnya jajaan belanda dan jepang maka mereka merebut tanah papua dengan proses reprendum (PEPERA) pada tahun 1962 di Holandia (Jayapura). semua berawal dari sejarah,anda akan merasa bangga dengan keadaan anda sekarang yang serbah makmur dan mewah namun jika anda belum tahu bahkan tidak mampu mengetahui bahwa mengapa anda seperti itu maka anda akan mengetahuinya bahwa anda adalah orang yang tak punya jati diri yang jelas.ketika waktunya tiba saat papua bebas dari perbudakan indonesia..KAMI akan membalasnya dengan membangun relasi yang lebih keji dari sekarang…………

  27. Selamat atas webblog tengang Papua…
    Tapi saya gak yakin Anda mengenal Papua
    Misalnya ketika nulis tentang “pertanyaan” bodoh
    Terlihat sekali kalau Anda hanya mengenal bbrp kota di Papua, mungkin bahkan hanya Jayapura dan Sorong saja
    Memang benar kan, di pedalaman timur Papua masih ada suku kanibal, yang saya yakin Anda belum pernah ke wilayah itu
    Juga banya daerah, bahkan ibukota kabupaten yang belum ada warung, seperti Anda tulis sebagai pertanyaan “bodoh”.
    Tetapi saya yakin Anda belum pernah mengunjungi daerah itu
    Sekali-kali pergilah ke pedalaman boven digoel, atau ke kabupaten baru Nduga (yang belum ada warung). Bahkan di Ilaga, ibukota kabupaten Puncak, warung baru ada 2 tahun terakhir ini..
    Jika Anda orang Papua, cobalah mengenal lebih dekat daerah Anda sendiri… Alhamdulillah saya sudah mengunjungi hampir seluruh wilayah Papua.. OK, selamat dan terus berkarya..!!

  28. Ping balik: Papua, sekilas masalah « JenSen Yermi's Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s