Pilihan Hidup

Suatu pagi beberapa tahun lalu, sambil menunggu Kapal Pelni yang akan mengantar saya kembali ke Jogja, sengaja saya dan papa yang waktu itu mengantar ke pelabuhan singgah sebentar ke tembok berlin untuk mengobrol2 sebelum saya naik kapal.

Seperti biasa obrolan yang berisi sedikit pengalaman beliau ketika masa mudanya dan tentu saja petuah2nya kepada saya, si anak yang baru mengakui kepada bapaknya di bulan Juli itu tentang keberadaan cucu beliau yang pertama.

Salah satu yang kami obrolkan saat itu, tentang pilihan hidup. Papa saya yang baru menyelesaikan sarjana muda di Universitas Cenderawasih tahun 80an harus memilih antara diminta menjadi dosen di Uncen atau membaktikan diri mengajar di sekolah Yayasan Katolik milik Keuskupan.

Pilihan menjadi dosen saat itu merupakan pilihan yang begitu mantap. Tetapi akhirnya papa saya malah memilih untuk ke Sorong, menjadi guru honor di Yayasan Pendidikan Katolik milik Keuskupan dan kemudian beliau dikirim ke Jogja untuk menyelesaikan sarjananya di (IKIP) Sanata Dharma).

Dari pilihannya itu berbuah manis tentu saja. Papa saya ke Sorong, bertemu Mama saya yang juga ngajar di tempat yang sama. Papa ke Jogja, Mama nyusul. Mereka nikah di jogja dan akhirnya saya brojol di RS. Bethesda.

Apa sih yang mau saya omongin?

Saat ini, saya mengalami hal yang sama. Sudah harus berhadapan pada pilihan hidup yang sangat sulit diputuskan. Ketika saya akan berniat membina keluarga saya nanti di tempat lain. Orang tua dan keluarga saya di Papua menawarkan pekerjaan yang lumayan. pusing deh

Bagi mereka, peluang saya di Papua gede. Hingga bicara gaji yg bisa saya dapat lebih dari gabungan gaji papa dan mama saya yg guru Gol. 4 *apa gak gilaaaa itu…*

Dibanding saya ke tempat misua, peluang kerja saya tidak sebaik di Papua. Tapi misua saya bisa deket ma ortunya. Secara, dia anak laki2 satu2nya dan adek perempuannya pun sudah menikah. Gak mungkin saya mengajak misua ke Papua ninggalin mertua saya.

Lah… trus gimana saya bisa nolak keinginan ortu saya yg juga pengen saya di Papua aja yah?

HIks… entahlah. Doakan saya bisa memilih dengan baik mana yang terbaik. Iya gak sih🙂

.

-belum lulus aja udah pusing kek gini-

10 thoughts on “Pilihan Hidup

  1. @ngodod:
    aih mas satu ini bijak banget…
    yah mungkin saya harus sering menghadap minta petunjuk

    @didut:😀 hehe temen ku bujang semua huaah bijimana ini…

    @nothing:
    saya besar di Papua, udah cinta banget sama Papua. tapi sekarang saya mau ke Flores juga sih. lah mas sampeyan bakal beruntung banget bisa maen ke Papua.😀

  2. Wah Ocha, saya punya cerita sedikit nih soal memilih.

    Saya nggak mau cerita kamu memilihnya bagaimana dan apa yang kamu dapatkan. Saya pikir semua komentator diatas sudah lebih oke lah komentarnya. Saya mau bagi cerita, ketika sudah menetapkan pilihan.

    Percayalah, apapun yang kamu pilih, saya yakin pasti baik untuk kamu dan orang-orang yang terlibat.

    Yang berat adalah di awal-awal masa setelah menetapkan pilihan itu. Sebab banyak sekali perasaan bimbang, gamang, sesaat sesal bahkan hingga bingung mau bagaimana.

    Saran saya, kalau sudah sampai tahap itu, jalani saja sesuai dengan ketetapan pilihan hati kamu di awal. Teguhkan niat. Tetaplah tegar di masa-masa nan berat itu.

    Sebab kalau kamu tegar, ibarat menanam padi unggul. Suatu saat, tidak lama setelahnya, akan menuai hasil yang baik buat kamu dan orang-orang sekeliling kamu.

    Semoga sukses, Ocha.

    Maaf kalau ada kesan menggurui. Sama sekali tidak. Ini hanya sekedar berbagi pengalaman.🙂

  3. Hmmmm…..

    Kalo pilihan sayah, sayah akan ke Papua mengikuti anjuran orang tua. Tapi inget lho, ya. Bukan soal mau dapet gaji banyak, tapi semata-mata “Kapan lagee bisa memberi untuk ortu ???”. Sayah ndak isa mbayangin perasaan oratu nyang telah sekiyan lama memberi untuk kita, disaat mereka “sedikit” meminta, kita ndak isa memenuhinya. Mumpung mereka mingsih ada…..

    Soal calon suami, sayah cuman bisa bilang ;
    Kalo dia memang jodoh nyang Tuhan berikan untukmu, dia ndak akan kemana, Cha…
    Percayalah, justru dalem kedaan kaliyan berjawuhan, saat itulah cinta sejati mengujimu….

  4. @escoret:
    yup, tapiiiih terakhirnya itu lho
    *lempar pepeng pake konde tribal*

    @iman brotoseno:
    iya mas, musti banyak doa nih sayah😀

    @bang aip:
    makasih bang sharing pengalamannya. duh jadi seneng ada yg bisa ngasih nasehat juga

    @ibach:
    iyah, suatu saat juga nyampe sana yah…

    @syech bocor alus: 😀 *peyuk2 syech mbelgedez*
    kok saya kena banget yang ini. :((
    tengkyu bos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s