Friends Forever

And so we talked all night about the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won’t be coming back
No more hanging out cause we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don’t have another day
Cause we’re moving on and we can’t slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
We would get so excited and we’d get so scared
Laughing at ourselves thinking life’s not fair
And this is how it feels

As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come Whatever
We will still be
Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won’t interfere with her tan?
I keep, I keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly
And this is how it feels

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it’s like we’re women and men
Will the past be a shadow that will follow us ’round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly

“Graduation (Friends Forever)/Vitamin C”

…………….

Gila… kok tiba2 jadi kangen ma teman2 masa SMA. Se-genk berempat, tapi jadi saingan berat juga dikelas.

Enka, yang sangat gak percaya akhirnya kalah diakhir SMA oleh ku. Salahkan bang Ridho nka, dia yang menghasut ku saat itu.

Enno, si manis orang Jawa ini, entah dimana dia berada. Sejak kapal Umsini menurunkan kita 7 tahun lalu di pelabuhan tanjung perak, kita pun pisah kota. Malang kayaknya gak begitu jauh, tapi… sampai saat ini hilang kontak gitu.

Meys, cewek Ambon itang manis, udah di sebuah LSM di Papua sana. Kemaren dah merid juga. Tunggu aku say 😀 Kangen ma cempreng mu.

.

Oh iya, masih ingat juga sama genk dari SMP.

May, temen ku yang suka minjemin serial ghostbumper ehhh ghostbuster ehhh apa sih namanya (dah lupa). Sekarang juga dah nikah, dan punya blog kuliner neeh. Gila, salut banget ma temenku ini, Bakatnya banyak banget. Dari jaman SMP jago gambar sekarang jago masak *menjura*

Dedek, cewek Bali, sahabat paling dekat. Nikah dengan teman ku juga. Sayang dah pisah mereka 😥 Sedih banget, soalnya dari jaman kucing2an dari ortu pas SMA aku saksinya 😀 Masih di Lombok sepertinya ni anak. 😦

Ratna, entah dimana pula ni anak. Inget gak saat pertama kita muntah2 bareng di kamar mandi gara2 nonton pilem “ituuuu” 😯

Dan teman-teman lainnya, yang entah dimana, udah jadi apa, dah merid atau belum, kangeeeeeeeeen oy.

.

Gak tau kenapa hari ini masang lagu itu di playlist dan tiba2 rasa kangen ini muncul. Kenangan masa2 hancur indah di sekolah, dari SMP sampai SMA. Kalau SD mah, cuman inget acara jotos2an ma anak2 cowok SD sebelah.

Temen-temen cowok jaman SMA yg dulu suka bikin hidup jadi lebih hidup. Yang kalau diajakin anak2 cewek bikin puding, katanya ntar mereka yang buat vla-nya. cuih cuih cuihhhhhh… Biar nakal, kurang ajar, kacau, ancur, kita tetep saling sayang yah. Dimana kalian sekarang bro? Pisah terakhir pas kalian nganterin kita naek kapal. Pelukan dan cipika-cipiki padahal pacar2 kita ikut nganter gak kalian pedulikan, wkwkwkwkwk 😀 Kangen banget ma cerita2 mob kita dulu.

..

Sedih yah, kadang-kadang. Tapi emang hidup gak bisa hanya stuck disitu aja. Harus terus berlanjut. Hingga akhirnya di Jogja pun, ketemu ma soulmate baru lagi.

Peron, temen/adek/pacarnya ipar, lengkap deh. Tempat curhat, teman pesta 😀 sesama rompes dulu (rombongan pesta). Gak ada kamu gak asik lagi nih dunia pesta kita. *memberikan tanda viva ke PeTeeR* :mrgreen:

Grace, kita bakal pisah nih. Bulan depan. Kupang – Larantuka atau Kupang – Sorong, hanya Tuhan yang tahu.

PeTeeR, ehh.. gak jadi. Paling masih ketemu juga ma ini anak. *sungkem pada om*

Ingeeet yaaaaah

And as our lives change
Come Whatever
We will still be
Friends Forever


Pilihan Hidup

Suatu pagi beberapa tahun lalu, sambil menunggu Kapal Pelni yang akan mengantar saya kembali ke Jogja, sengaja saya dan papa yang waktu itu mengantar ke pelabuhan singgah sebentar ke tembok berlin untuk mengobrol2 sebelum saya naik kapal.

Seperti biasa obrolan yang berisi sedikit pengalaman beliau ketika masa mudanya dan tentu saja petuah2nya kepada saya, si anak yang baru mengakui kepada bapaknya di bulan Juli itu tentang keberadaan cucu beliau yang pertama.

Salah satu yang kami obrolkan saat itu, tentang pilihan hidup. Papa saya yang baru menyelesaikan sarjana muda di Universitas Cenderawasih tahun 80an harus memilih antara diminta menjadi dosen di Uncen atau membaktikan diri mengajar di sekolah Yayasan Katolik milik Keuskupan.

Pilihan menjadi dosen saat itu merupakan pilihan yang begitu mantap. Tetapi akhirnya papa saya malah memilih untuk ke Sorong, menjadi guru honor di Yayasan Pendidikan Katolik milik Keuskupan dan kemudian beliau dikirim ke Jogja untuk menyelesaikan sarjananya di (IKIP) Sanata Dharma).

Dari pilihannya itu berbuah manis tentu saja. Papa saya ke Sorong, bertemu Mama saya yang juga ngajar di tempat yang sama. Papa ke Jogja, Mama nyusul. Mereka nikah di jogja dan akhirnya saya brojol di RS. Bethesda.

Apa sih yang mau saya omongin?

Saat ini, saya mengalami hal yang sama. Sudah harus berhadapan pada pilihan hidup yang sangat sulit diputuskan. Ketika saya akan berniat membina keluarga saya nanti di tempat lain. Orang tua dan keluarga saya di Papua menawarkan pekerjaan yang lumayan. pusing deh

Bagi mereka, peluang saya di Papua gede. Hingga bicara gaji yg bisa saya dapat lebih dari gabungan gaji papa dan mama saya yg guru Gol. 4 *apa gak gilaaaa itu…*

Dibanding saya ke tempat misua, peluang kerja saya tidak sebaik di Papua. Tapi misua saya bisa deket ma ortunya. Secara, dia anak laki2 satu2nya dan adek perempuannya pun sudah menikah. Gak mungkin saya mengajak misua ke Papua ninggalin mertua saya.

Lah… trus gimana saya bisa nolak keinginan ortu saya yg juga pengen saya di Papua aja yah?

HIks… entahlah. Doakan saya bisa memilih dengan baik mana yang terbaik. Iya gak sih 🙂

.

-belum lulus aja udah pusing kek gini-