Perbedaan…. (lagi)

Suatu sore, seorang teman lama mengajak berbincang-bincang sejenak mengenai hidup masing-masing. Ujung-ujungnya membahas hubungan saya dan si dia (my sexy hubby wannabe itu).

“Kamu gak liat apa?? Yuni Shara yang beda iman ama suaminya aja udah pisah. Kamu gak takut?? Jangan buat hal yang ujung-ujungnya beresiko deh….”

Gubraksss…

Mau saya jawab bahwa saya orangnya suka mengambil resiko. Terlalu biasa..

Akhirnya yang malah keluar dari mulut saya hanya:

“Ya udah.. ngapain sih dikait-kaitkan ke si Yuni Shara dan eks suaminya itu.. Gini aja deh, kalo Lidya Kandouw dan Jamal Mirdad juga bernasib seperti itu, kamu balik lagi deh nanya aku pertanyaan ini”

*pasang tampang polos*

Akhirnya teman tersebut hanya mengeleng-gelengkan kepala, jengkel dengan jawaban saya mungkin.

Oh ya, gambar dari sini

20 thoughts on “Perbedaan…. (lagi)

  1. Yg Jelas perbedaan pasti akan lebih banyak rintangannya dibanding yg sejalan.

    If you’re ready for all those hardship, ya sudah… jalan terus, bulatin tekad, jangan pernah menyesal dan menoleh kebelakang… Seagama atau tidak, tinggal bagaimana kita (KITA LOH YACH, KEDUA belah PIHAK… bukan satu doang)

    Tapi emang sich cha, kalo bicara idealis sama realita… jauh berbeda. Saya dulu punya semangat yg sama besarnya kek kamu… Now, I know kenapa org dilarang menikah beda agama… bukan untuk nyusah2in kita, tapi emang menukah dibawah dua payung keyakinan yg berbeda, dan sama2 fanatik pula, gak ada yg mo ngalah… duh, berat bokkk… butuh pengorbanan yg gak sedikit…

    Selama ini, yg terbaik sepertinya adalah, mengalah untuk menang..😀

    Ocha:
    Mbak… kok masih ngalong juga??? sama.. huhuhuhu.

    Hm…. saya emang tahu jalan ke depan ituh berat pastinya. Saya bukan gak pernah mau menyerah mbak. Berkali-kali pengen nyerah. Tapi tetep misua wannabe saya itu juga tidak mau kami sampai harus pisah hanya gara2 beda ini. Mungkin sedikit informasi, orang tua dia pun nikah beda agama. Itulah mengapa kami juga jadi berani. Tapi bukan karena mencontoh mereka lantas ngikut. Juga bukan ‘hanya’ karena kami sudah ‘kecelakaan” yg akhirnya berakhir dgn manis (anak ku cantik maksudna) hehehe. Hanya merasa kami akan didukung oleh mereka. Ke depan tinggal menghadapi ortu dan keluarga besar saya juga keluarga besar dia yg lain. Semoga lancar2 jaya deh nanti. Kalo keluarga inti da sendiri santai2 saja.
    Mungkin saya idealis banget. hehehe.
    Jadi ingat sebuah quote manis di blognya ManSup:

    “Differences…are nothing at all if our aims are identical and our hearts are open” – Albus Dumbledore

  2. Kalo beda Partai Politik aku mau sis…🙂

    Ocha:
    Gak kebayang aja, klo misalnya sama2 jadi pengurus partai. hahahahaha. gak tau yah. hati orang sapa yg tahu. tekad orang sapa yg bisa ukur. (halah…) btw, makasih mampir juga di mari).

  3. @westnu:
    yup… belajar mencintai perbedaan

    @Om4gus:
    hehe, aku ma dia aja bukan beda keyakinan doang, beda suku juga, beda lain2nya.tapi ttp cintrong.

    @gandhi:
    iya mas, tergantung kita sendiri memandangnya gimana

    @jarwadi:
    hehehe, kalo sama susah ngebedainnya. <—- ngaco deh

    @kw:
    i hope so

    @annots:
    rite.. hati udah memilih.

    @funkshit:
    huehuehue, baby saya, udah dipikirin kok. sama mertua sy malah sudah di akikah-in.
    kami cuman open-minded aja. nanti akan diputuskan tetapi tidak menutup kemungkinan
    biarlah ni anak belajar semua tentang punya saya dan punya papanya. kalo besar dia
    mau putusin untuk berubah itu hak dia. urusan ribadi dia dengan Yang Di Atas

  4. Semestinya dalam suatu perkawinan sebisa mungkin mempunyai satu ideologi yg sama. Krn hal itu akan memudahkan langkah kedepan berikutnya. Beda partai saja bisa berabe, apalagi beda ideologi, bisa lbh berabe lagi. Kasian sama anak yg harus mempunyai dua opsi yg sama2 sulit. (berdasarkan pengalaman penulis-red)

  5. Alooo dinda Ocha van milan, kangeeeen niy😀

    BTW aku setuju, perbedaan itu indah kok, yg berat ya mengelola perbedaan itu krn akan butuh tenaga ekstra dan keberanian yang lebih. Gut lak ya Darlink…:D😀

  6. @yusdi:
    huehuehue…

    @khairuddin:
    tergantung deal awalnya gimana dulu. biar sama2 enak nantinya. dan tentu saja konsisten dengan deal yg sudah dibuat.

    @rhakateza:
    weitzz…. untuk beberapa orang sih… :mrgreeen:

    @rumahkayubekas:
    betul kang, pa lagi kasus YS itu, keknya ke faktor ekonomi kali yah. ah sutralah… orang bagi saya dan si ‘dia’ beda iman nih cuma hal kecil dibanding hal besar lainnya nanti.

    @mbak rita:
    kyaaa……. *cipika cipiki*
    lama gak berjumpa (halah…) di dunia blog ini maksudnya.
    thanks mbak.

  7. Masih ga’ bisa ngebayangin ini….beda keyakinan sangat sulit bagi saya (soalnya agama itu ekslusif dan sangat sensitif) kalo cuma beda suku, warna kulit, golongan ningrat apa gembhel, darah ijo(alien) darah biru(blau cucian🙂 ) darah kotor(darah siapakah ini huek cuih….hehehehe)…..masih bisalah.

    tapi gpp juga kok kalo yang ngejalaninnya yakin akan hal itu, bertanggung jawab, dedikasi, rela mengalah dan yang pasti akan menemui karang nan tajam dan terjal dengan ombak menghantam angin berhembus sepoi-sepoi pohon kelapa melambai mengajak bersenda gurau….(halah apa coba ini OOT | gara-gara komen diatas banyak yang kocak-kocak)

    Salam hangat

    Blopini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s