Menunggu

Benar-benar melelahkan, kalau

– menunggu antrian di supermarket, bioskop, bank, dll, jadi nyolot kalo ada yang tiba2 motong antrian

– menunggu teman / orang lain yang mau ketemu, ehh.. dia ngaret. kurang ajar!!!

– menunggu jam makan siang, kalo pagi gak sarapan grrr…..

– menunggu kapan haid, bila PMS sialan menyerang begitu hebat

——–

Tapi tidak cukup melelahkan, bila

– menunggu pacar datang, masih bisa dandan dikit2 *muntah*

– menunggu makanan yang dipesan, karena makluk Tuhan yang didepan mata begitu mempesona

——–

Atau.. sangat tidak melelahkan jika…..

Menunggu selama 2 jam lebih sang yang mulia dosen pembimbing supersibukbanyakkerjaansukaterbangkemana-manarapatmelulu

Meskipun akhirnya cuman ngobrol 3 menit!!!!

Makasih Pak! 😀 *jujur ini*

Gambar dari sini

Berita duka dari rumah

Hari ini keluarga kami sedang berduka.

Salah satu anggota keluarga kami, Hanni, berpulang ke Rumah Tuhan.

Berita ini sendiri baru diberitahukan lewat sms.

Shock… Bingung… Nangis.. sudah tentu.

(lebay deh)

Hikz…

—————

Maafkan kami semua ya hanni, meninggalkan diri mu dan papa hanya berdua di rumah.

Dan kau pun diam-diam bergulat sendiri dengan kematian itu

Sampe akhirnya… ketahuan oleh papa

Meskipun kamu sempat diberikan pertolongan pertama di kamar mandi.

Sayang… nyawa mu tak sempat di selamatkan lagi.

6 tahun sudah keluarga ini menyambut mu,

memperlakukan mu selayaknya anak bontot papa dan mama.

walaupun tetep aja ada adek2 kamu yg lain seperti si putih, mopi, bonita, dan kitty.

Sekarang waktu mu sudah datang.

Selamat jalan hanni ku sayang…

Semoga bahagia di alam sana

Cinta kami selalu ada buat kamu

———-

*gak tega kalo pulang liat akuarium lagi*

Hanni yang kami  sayang,

Louhan yang setia.

image006.jpg

gambar nyulik dari sini
mirip kek gini ikan kami T_T

Cerita hari ini

Bingung mau kasih judul apa.. Hari ini seperti biasa, ngendon dikamar. gak ngapa2in. Akhirnya mencoba OL pake hape dan jalan-jalan ke blog orang maupun ke tempat-tempat favorit lainnya. Membuat saya ingin menuliskan tentang salah satu situs kesukaan saya untuk melampiaskan kerinduan yang dalam terhadap tanah Papua tercinta, yaitu www.yaswarau.com ini

Yaswarau.com, sebuah situs yang didedikasikan kepada setia insan yang mengagungkan cinta. cinta kepada tanah kelahiran, cinta kepada asal, cinta kepada tempat bekerja, cinta kepada sesama, cinta kepada kenangan dan cinta kepada harapan akan hari esok yg lebih baik. semuanya itu akan membuat kita makin cinta kepada Dia, yg menciptakan Tanah sejuta Pesona, Tanah Penuh Harapan, Tanah Papua

Demikian yang dituliskan pada awal halaman situs ini. Yah.. sebuah situs yang dibuat oleh anak-anak Papua.

Ketika masuk di halaman awal, disambut dengan tampilan serba hitam, gambar pemandangan di sebuah kepulauan di Papua, dan lantunan lagu Papua yang membuat hati ini merindukan pulau di ujung timur sana.

Apalagi ditambah gambar ini dibawahnya..

Lihat saja, papeda + cakalang + kangkung + pisang + dan ditutup dengan makan pinang. Kenikmatan yang tiada tara bagi yang suka. Well… saya sendiri meskipun masuk kategori pendatang disana. Sangat menggilai yang namanya papeda dan teman2nya yang diatas itu. Kecuali pinang mungkin, masih belum bisa saya nikmati. Sempat belajar menikmati enaknya pinang seperti teman-teman yang lain di Papua, tapi ternyata lidah susah menikmati. Jadinya cuman bisa mengamati dengan iri teman lain yang asyik mengunyah saat kumpul2.

Saya juga tertarik dengan ajakan ini yang dituliskan teman-teman disana:

Gunakanlah dialek Papua

dalam setiap kesempatan di mana saja,

Kalo sodara ko peduli

Bagi saya ini ajakan untuk tidak melupakan dialek Papua bagi anak-anak Papua meskipun diri kita sudah berada di daerah lain. Ataupun jika masih berada di tanah Papua, jangan sekali-kali melupakan dialek khas Papua hanya karena bahasa gaul yang lain lebih keren ketimbang menggunakan dialek Papua yang khas.

Kenapa khas?? yah karena untuk hal-hal tertentu, menggunakan dialek Papua lebih mantap maknanya, dibanding bahasa gaul lainnya seperti misalnya bahasa Jakarta.

Ini eksistensi kita anak Papua yang semestinya di jaga. Bukan mengekslusifkan diri dari orang lain. Tetapi tentu saja tidak selamanya berbincang dengan orang luar selalu menggunakan dialek khas daerah. Untuk itulah ada bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.

Di Papua sendiri, ratusan bahasa asli dari tiap suku tentu ada. Oleh karena itu, bahasa Indonesia sering digunakan dengan tentu saja memakai dialek Papua yang kental.

Ketika istilah-istilah luar semakin familiar di telinga anak muda Papua, semoga tidak menghilangkan ciri khas dialek Papua pada umumnya. Saya kira inilah yang ingin diingatkan oleh para pengelola situs yaswarau.com itu.

Secara desain web nya, saya tidak memahami banyak, sehingga tidak ada tempatnya untuk mengomentari bagus tidaknya desain tersebut. Dari segi warna dasar yang hitam, mungkin menggambarkan ciri khas Papua. Adanya fitur-fitur lain seperti shoutbox juga memudahkan untuk sekedar menyapa yang lagi online di situs itu. Buku tamu pun tersedia. Artikel atau Berita juga ditampilkan sekilas tentang perkembangan di Papua maupun tulisan-tulisan dari anak-anak Papua sendiri. Forum untuk saling bertukar pendapat. Gallery berisi foto-foto pemandangan alam, orang-orang Papua, flora fauna disana, sungguh membuat diri ini kagum akan kebesaran Tuhan yang menciptakan Papua dengan indahnya. Ada tempat download untuk lagu-lagu ciptaan anak Papua. Kumpulan koleksi bahasa Papua asli pun ada. Dan juga kamus istilah-istilah gaul ala anak Papua. 🙂 Ide yang bagus untuk mengumpulkan itu semua (dalam kamus istilah). Sehingga kita yang kelamaan di luar Papua tetap up to date dengan istilah baru.Jadi kalau pulang ke Papua tidak kaget lagi mendengar kata-kata yang asing.

Dan yang paling saya suka adalah kumpulan cerita mob (cerita lucu), yang di tuliskan oleh teman-teman lain. Membuat hati selalu riang gembira (dan ketawa sampe poro sakit).Itulah ciri khas kita bukan?? mau makan ka tidak makan asal duduk cerita mob sepertinya beban-beban hidup hilang kah… 😀

Yah… demikian cerita hari ini. Saya tidak pandai membuat review sebuah website. Ini hanya perasaan saya yang bangga dan senang ada teman-teman yang berpikiran seperti ini. Membuat sebuah situs untuk menyebarkan virus cinta. Cinta pada keagungan Tuhan dan cinta ada tanah Papua tentunya.

————————————

Untuk para admin Yaswarau yang membaca ini, maaf kalau banyak salah kata atau kurang menggambarkan atau apa lah… Yang jelas kam krass…. mantap… Sukses selalu untuk Yaswarau.com

Perbedaan…. (lagi)

Suatu sore, seorang teman lama mengajak berbincang-bincang sejenak mengenai hidup masing-masing. Ujung-ujungnya membahas hubungan saya dan si dia (my sexy hubby wannabe itu).

“Kamu gak liat apa?? Yuni Shara yang beda iman ama suaminya aja udah pisah. Kamu gak takut?? Jangan buat hal yang ujung-ujungnya beresiko deh….”

Gubraksss…

Mau saya jawab bahwa saya orangnya suka mengambil resiko. Terlalu biasa..

Akhirnya yang malah keluar dari mulut saya hanya:

“Ya udah.. ngapain sih dikait-kaitkan ke si Yuni Shara dan eks suaminya itu.. Gini aja deh, kalo Lidya Kandouw dan Jamal Mirdad juga bernasib seperti itu, kamu balik lagi deh nanya aku pertanyaan ini”

*pasang tampang polos*

Akhirnya teman tersebut hanya mengeleng-gelengkan kepala, jengkel dengan jawaban saya mungkin.

Oh ya, gambar dari sini

Baru tahu kalau Oma saya preman jago.

Sejak pertengahan bulan lalu, beberapa keluarga saya mengunjungi Jogja dalam rangka pencerdasan keturunan keluarga yang sudah melalui jenjang pendidikan S3 di Papua sana (SD, SMP, SMA), menuju (puncaak…. gemilang cahaya… ) tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu S1 di kota Jogja ini. Udah S3 balik S1 lagi 😀

duh mau cerita apa kok pembukanya gini sih… maap-maap *dengan kepala benjut2 dilempar monitor* (request yang flat domz…. ) sudah penyakit saya kalau mau cerita sesuatu musti pembukaannya sepintas gak nyambung. Err….. bedewe.. akhirnya saya bisa bikin kata yg dicoret di judulnya (horeeeeee…… *lempar2 bunga)

Jadi gini….. karena keluarga yang berdatangan begitu banyak. Sudah tentu dapet saweran banyak juga kumpul ngobrol bersama om dan tante2 tercinta, terutama diskusi kampus mana yang cocok untuk sepupu2 saya yang 4 biji itu: dua kembar putri dan dua lainnya tunggal (putri jg). Hingga cerita2 nostalgia mereka yang pernah tinggal sewaktu sekolah dulu di rumah Opa dan Oma saya di kota Fakfak, Papua Barat. Kebetulan emang om dan tante2 yang dateng ini bukan sodara langsung dari Papa saya. Hanya keluarga jauh, tapi sudah pasti lah, kalau marga sama dan dari kampung yang sama pula mau darimanapun tetep keluarga. (melenceng lagi deh)

Nah… salah satu cerita mereka adalah… TERNYATA bukan hanya Opa saya yang dulu setia kemana2 dengan Binter kebanggaannya. Oma saya ternyata jago juga bawa motor. Cuman lebih sering make Vespanya saja.

Itu aja kok kaget cha???????

Lah gimana saya gak kaget, ternyata dibalik sangatsuburnya badan Oma saya sekarang. Beliau ini sungguh lincah dengan vespanya di jaman itu (kira2 dari tahun 70-an sampe 80-an). Tentu saja harus lincah, karena Oma saya ini cuman Ibu Rumah Tangga dengan belasan mulut dirumah yang harus diberikan makan. Sodara papa saya 9 orang, belum sepupu2 Papa dari kampung yang dibawa Opa saya untuk sekolah di Papua.

Kegiatan rutin Oma saya ini dimulai dari sebelum orang rumah semua bangun pagi hingga setelah orang rumah semua tidur dimalam hari. Berarti emang bener Oma saya milih Vespa saat itu karena kemungkinan ke Pasar pasti belanjaannya banyak.

Saya sendiri hanya pernah melihat foto Vespa tersebut ketika SMA. Anehnya di foto itu cuman ada saya sama Opa yang baru pulang main tenis. Rupanya memori saya belum terbentuk saat itu. Jadi gak bisa ingat.

Oma bawa Vespa. Truss dimana jagonya????

Hehehe, kalau anda sudah ke kota Fakfak yang terkenal dengan nama kota Pala. Anda pasti mengerti maksud saya. Ngeri deh jalan2nya. Saya aja berani bawa motor disana saat pulang tahun kemaren. Sampai ada semacam joke2 sopir, yang bilang kalau sudah pernah nyupir angkot di Fakfak, kalau ke kota lain yang jalannya lurus gak naik2 gunung, pasti deh jago. Waksss.

Ini salah satu foto di Fakfak yang saya temukan lewat Om Gugel milik sodara disini. (maaf saya ambil tanpa seijinnya) Katanya pemandangan dari depan hotel yang diinapinya. Kayaknya hotel yang pas didepan rumah Oma saya deh.

Bisa lihat kan. Rumah yang kelihatannya bersusun kebawah. Rumah-rumah di gunung kayak begini sudah pasti jalannya susah bok. Curam banget turunannya. Belum kalo ada belokan.

Huahhh …. Oma saya emang jago. Ibu RT yang jago gak mau repotin suaminya yang sibuk cari duit saat itu (ya tentu saja, yg harus dihidupi banyak gitu).

Gak bisa membayangkan dulu oma saya (yang sekarang badannya se-BESAR itu) bisa bawa vespa juga ternyata.

Akhirnya saya jadi tahu, darah pembalap itu bukan hanya turun dari mama saya. 😀

——————————-

Btw, gambar terakhir dari sini. Iklan Vespa jadul tahun 1946. huehuehuehue