Teringat bantuan Gempa Jogja 2 tahun lalu

Memang telat untuk nulis ini. (maklum aja lagi jarang blogging)

Saya cuma teringat saat peristiwa 2 tahun 3 hari yang lalu. 27 Mei 2006 gempa yang menghancurkan Jogja dan sekitarnya. Ketika getaran dashyat itu datang, untunglah saya dan sexy hubby masih selamat. Tetangga kost saya, tepat di sebelah kamar saya hampir menjadi korban. Kamarnya hancur, rata dengan tanah akibat gempa pertama. Untunglah mas yang sehari-hari berjualan Nasi Goreng keliling kampung ini adalah orang yang taat beribadah. Rajin sholat subuh membuat dia selamat dari peristiwa ini. Tuhan emang sayang sama orang seperti ini yah… 🙂

Banyak hal yang terjadi setelah gempa pertama, sinyal hilang timbul, listrik mati, membuat hape2 tidak berfungsi ditambah low bat. Satu-satunya yg masih bertahan cuma hape jadul saya Siemens M45. Akhirnya hape ini digilir untuk mengirimkan sms kemana2 oleh teman2 se-kost. Mama saya di Papua bahkan masih menyimpan sms saat Gempa ini di hapenya.😦 Isu-isu mulai beredar tak karuan. Lahar Merapi dah turun lah, tsunami lah… Semua langsung mengingat tragedi Aceh.

Sembari menunggu gempa2 susulan yang datang. Saya pun keluar masuk kamar sambil lari2 kecil takut ketimpa bangunan. Mengambil dompet, ijazah, tas laptop dan laptop toshiba pentium 3 sy. Di dalam pikiran saya cuman 1, kalau ada apa2 laptop ini bisa sy jual untuk ongkos pulang kampung saat itu juga.

Ngecek sodara2 saya yang lain, ternyata aman semua. Hanya satu orang yang menganggu pikiran saya dan hubby. Yaitu si PeteeR itu. Kamar dia di lantai 3, dengan kondisi bangunan kost yang masih semi permanen. Takut kenapa2 dengan dia. Akhirnya kabar yang datang dari dia, dia sudah berada di Panti Rapih bantuin korban gempa disana. Soalnya kost dia memang di Sagan situ, dekat banget dengan RS Panti Rapih.

Rentetan telpon dari keluarga silih berganti. Bikin capek mulut, harus menolak setiap tawaran Om atau Tante yang kebetulan menikah dengan orang asli Jogja, untuk segera ke rumah keluarga mereka di Jogja ini. Lha.. saya ini kan sudah besar, bisa jaga diri. Orang tua saya saja asal tau saya ga kenapa2 santai2 saja. Karena mereka tahu, didikan mereka terhadap saya sudah cukup membuat saya jadi perempuan tangguh untuk hal beginian.😀

Nah… setelah gempa itu, beberapa hari kemudian, mulailah perkumpulan mahasiswa berdasarkan daerah asal mulai mendata mahasiswa2 yang terkena gempa di Jogja (korban maupun tidak) untuk diberikan bantuan. Saya sendiri mendapat bantuan pertama dari daerah asal saya Sorong, Papua Barat. Bantuan pertama berupa logistik, beras 3kg, gula 1 kg, minyak goreng 1 ltr, kecap botol, teh celup sekotak, sabun mandi, sabun cuci, mie instant, deelel. Lumayan, apa lagi setelah gempa, banyak warung yang tutup, lesehan yang buka harganya melangit. Apalagi akhir bulan!!!! Saat kantong lagi kering sekering2nya. Bantuan itu dari salah satu perusahaan di kota Sorong (Petrocina). Sisa dari bantuan perusahaan itu yang masih ada setelah dibagikan kepada seluruh mahasiswa asal Sorong (asli maupun pendatang) langsung di salurkan ke daerah Bantul.

Bantuan berikutnya, berupa uang. DuGem istilah kami. Duit Gempa. Dari Kabupaten Sorong. Setiap mahasiswa mendapat sekitar Rp350.000. Dari uang yang diterima, kami pun diminta menyumbang untuk masyarakat Bantul. Entahlah apa memang di sampaikan waktu itu saya juga tidak begitu tahu. Semoga saja iya.

Langsung saya gunakan untuk persiapan logistik di dapur. Siapa tahu juga sewaktu2 ada teman ato keluarga hubby yang dateng mengungsi kan sudah aman. Soalnya waktu itu, emang hubby saya tidak mendapat bantuan apa pun dari kabupatennya. hihihihi

Kabar berikutnya, ada bantuan lagi. Dari Pemda daerah asli saya. Maluku Tenggara. 1 jt Rupiah.. Bisa dibayangkan tampang kami saat itu. Setelah mendapat DuGem itu, dalam otak saya cuman 1. Mau dijadikan tambahan untuk beli CPU. Soalnya beli komputer, saya nyicil satu2. Monitor dah ada, keyboard, mouse, deelel. Tinggal CPU doang. hehehehe. *malutersipu-sipu*. Kan penting ituhhh…. Demi kelancaran kuliah saya yang tersendat-sendat. Teman2 saya yang lain weleh…. pada belanja2 semua. Akhirnya duit habis ga keruan tidak bermanfaat. Dan saya bisa bangga dikit, dari duit itu bisa punya komputer akhirnya.

Jadi… pesan moralnya.. Kalau dapat bantuan (terutama duit), jangan habis untuk hal2 konsumtif. Lebih baik dipakai untuk sesuatu yang berguna nantinya.

Salam Damai..

OCHA

One thought on “Teringat bantuan Gempa Jogja 2 tahun lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s