Kecelakaan saat pacaran (Part II)

Melanjutkan dari bagian pertama disini, yang terlalu panjang kalau di tuliskan jadi satu bagian.

++++++++++++++++++++++++++++++++++=

Nah.. kalau sudah terlanjur tekdung tralala trilili (baca: perut membengkak alias hamil) seperti ini dan belom menikah, sudah pasti banyak masalah yang dihadapi kan…. Banyak banget. Apalagi yang masih berstatuskan anak sekolah ataupun mahasiswi. Di sekolah, sudah pasti dikeluarkan (huhhh, kenapa yg cewek harus begini) kalo ketahuan oleh sekolah, iya kan?? bikin malu sekolah katanya. Ya udah, biarlah. Masih ada jalan lain untuk kembali mendapat ijazah sekolah. Ikut Kejar Paket apalah namanya tuh. Tinggal ujian persamaan aja kok. Kalau jadi mahasiswi, manfaatkan cuti kuliah yg bisa kita gunakan. Cuti bentar, lepasin stress yang ada, jaga kehamilan dengan baik, setelah keadaan udah mantap kembali lagi menuntut ilmu. Semudah itu kah?? Tentu saja tidak.

Ingat ini adalah konsekuensi dari apa yg kita lakukan, tidak mudah teman. Tapi sangat berat. Karena sekali masalah ini terjadi, berpengaruh ke hal2 yang lain juga. Di omongin orang sekitar, digosipin di kampus, dijauhi orang terdekat. Tapi jgn khawatir girl, teman terbaik akan datang pada saat-saat yang susah.

Okey, selain hal2 yang akan mempengaruhi sedikit pikiran kamu (digosipin lah, dll) masalah besar pasti sudah menanti di depan sana dan itu yg lebih membuat kamu semakin stres. (Tapi ingat, stres yg berlebihan sangat sangat tidak bagus buat kamu dan janin mungil didalam perut mu itu). Masalah yang terbesar tentu saja adalah bagaimana menghadapi orang tua. Ada yang ketakutan setengah hidup, ada yang biasa saja, ada yang langsung kabur selama2nya dari orangtua. Jadi ingat ada pepatah (ehh apa yahh pokoknya itu lah) yang mengatakan “Singa pun tidak akan makan anaknya sendiri”. Apakah demikian??? Kira2 bagaimana pendapat orang tua nanti yah?? Reaksi nya bagaimana?? KECEWA kahh?? sudah pasti sista. tapi ga akan sampe pengen membunuh kamu koq.

Ada yang bisa menerima dengan perasaan hancur (hikzz, i’m sorry daddy), ada yang tidak bisa menerima (atau belum bisa menerima), ada yg langsung dengan tegasnya mengusir keluar dari keluarga. jadi tambah pusing kan mikiran gimana reaksi ortu. Sudahlah, kita harus sadar ini kesalahan kita, BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB. Apapun reaksi orangtua, kita hadapi dengan hati yg ikhlas. Bagaimana pun mereka tidak pernah mengharapkan ini terjadi pada diri kita. Kita juga telah dianggap tidak bisa memegang amanah keluarga, tidak dapat menjaga kehormatan keluarga, dan lain sebagainya. Jangan larut dalam kesedihan dan kebimbangan untuk memikirkan reaksi orang tua, yang penting bagaimana kita memberitahukan dengan baik tanpa membuat orang tua langsung menuju ke RS sehabis mendengar pengakuan kita. OKEY

Orang tua, dua orang bukan, ayah dan ibu (kalau yg masih lengkap orang tuanya). Biasanya yang paling keras adalah Ayah/Papa. Sosok ini yang paling ditakuti kalau sudah masalah kayak begini yang mau diomongkan. Sedangkan ibu, mungkin hanya menangis terus mendengar hal ini.

Para cewek sekalian, sedikit info tips dari saya, mungkin lebih baik beritahukan lebih dahulu kepada IBU. Kenapa begitu??? karena ibu meskipun dia terluka, merasa sakit, airmatanya bakal jatuh bahkan mungkin sampai marah sekalipun, IBU tetap bisa memahami bagaimana perasaan kita yang sedang mengandung. Ibu tahu betapa beratnya hal itu, dan karena terjadi sama anaknya sendiri, dia akan berusaha melindungi kamu, membantu kamu untuk bisa keluar dari masalah itu. Hanya perempuan yang bisa mengerti perempuan lainnya.

Cara memberitahukannya??? Secara langsung dan tak langsung. Kalau masih serumah dengan IBU, ajak ibu ke kamar, curhat dan sampaikanlah itu semua. Katakan juga alasan kamu untuk belum dapat memberitahukan kepada AYAH masalah ini (sehingga lebih dahulu mengatakannya ke IBU). Entah AYAH kamu emang keras sehingga kamu butuh IBU agar bisa mendampingi kamu ketika menghadapi AYAH nanti. Lebih mudah mengatakan kepada IBU menurut saya. Bukan karena dia lemah dan tidak seperti AYAH yang keras, tetapi sesama perempuan pasti paham gejolak pikiran yang ada. Kalau kamu jauh dari rumah (seperti saya) siapkan voucher pulsa HP yang byk, waktunya untuk Curhat Online dan Mewek bersama.

Masih g berani ngomong ke IBU juga??? Hubungi kerabat kamu yang lain, yang cukup dekat juga dengan orang tua. Tapi yang lebih penting adalah sebaiknya IBU bisa tahu terlebih dahulu. Beliau bisa “menyiapkan” AYAH untuk dapat menerima pengakuan mu dengan baik. Beliau bisa membantu mu mempersiapkan mental dan fisikmu saat hamil. PENTING ITU.

Yang jelas, bagi saya sendiri, memberitahukan orang tua adalah penting. Menunda hal itu mungkin bisa, tapi seberapa lama akan disembunyikan?? Bukankah orang tua tahu dari mulut sendiri masih lebih baik dibandingkan mereka mendapat cerita dari orang lain tentang keadaan kita. DAN SETELAH ITU, apapun reaksi yang kita dapat dari orang tua tentang masalah ini, terimalah dengan lapang dada. DIusir, tidak dianggap sebagai anak lagi, uang kuliah di stop, deelel… WELL, waktunya untuk belajar arti hidup sebenarnya. Berjuanglah.

Mungkin ketika orang tua dapat menerima hal itu, selanjutnya adalah langsung di NIKAH kan saja. tapiiiiiii (ada tapinya nih), bisa jadi masalah lain juga masih ada. CONTOHNYA, kayak saya ini. dalam status (terpaksa) belum dinikahkan karena masalah perbedaan keyakinan. Bagi kami berdua (saya n my sexy hubby wannabe) cinta antara kami sudah sangat sangat kuat, tapi KELUARGA masih belum dapat menerima perbedaan ini. Kalau kami sudah mapan dan sudah bisa berdiri di atas sepatu sendiri, WTF with everything!!! Adat, agama, deelel terlalu mengekang. JADI pesan sponsor, cari yang seiman aja yah🙂 biar g ribet.

Warm Hug for u girls.

———————————————————–

segitu dulu untuk hari ini, capek ngetiknya… huahhhh laperrrrr

22 thoughts on “Kecelakaan saat pacaran (Part II)

  1. Saya penasaran dengan “beda keyakinan” itu.. Tak ada jalan sama sekali kah? Kalau kedua ortu dari masing – masing pihak tetap tidak setuju gimana dong? Apakah anak itu nantinya tetap berstatus tanpa ayah?

    *mungkin mewakili beberapa wanita yg punya kasus serupa..

    Indonesia ini memang aneh, beda keyakinan itu seperti sebuah bumerang.. Padahal harusnya menjadi taman yang berwarna – warni..

  2. yap. masalah keyakinan ini emang cukup alot ya sist?

    apalagi kalo yang nentang udah ortu. duh!

    kalo ortu saya sih, fine fine aja saya mau nikah sama seagama or not…lha sama ortu aja saya udah beda keyakinan kok…😀

    betewe, tulisanmu ini layak dibaca banyak orang sist!

    keren!

  3. @Yeni S: yah, semoga yg lagi mengalami baca ini. dan tidak mengalami JANGAN COBA2 DEH

    @Okto Silaban: agama emang jadi penghalang yg besar. dari keluarga inti masing2 (bpk ibu kami ber2) sebenarnya g terlalu diributkan, CUMAN dari keluarga besar lainnya yang heboh banget. Sebenarnya kalo untuk yg lain yg mengalami hal yg sama, kalo siap ama resiko nya silahkan aja. kalo belum yak, pikir2 dulu deh. Yang penting bisa buktiin ke ortu lagi kalau hidup berdua yang beda itu bisa lebih baik nanti. (bedewe, sbnrnya sy sendiri jg pusing dgn masalah ini sih.. kyknya ada info menarik yg perlu dibaca di tempat mbak memeth ini)

    @Restlessangel: semoga mbak, tapi lebih penting lagi dengan semua yg pernah dialami oleh baby ku itu sampai nanti dia besar, bisa menjadikan dia perempuan yang kuat

    @Mrs 49: hehe, mertua incumbent saya itu juga beda agama koq. sama posisinya kyk aku n si sexy hubby ku itu. cuman yah itu KELUARGA BESAR. maklum dehh kita di Indonesia sini kekeluargaan nya masih besar banget.

    @indra1082:🙂 gitu deh (sebenarnya bingung mau bales komennya gimana, agak g ngerti sih, maap) *menjura*

    @chic: makasih dah mampir. iyah emang repot dan banyak masalahnya. kalau ada yang bilang dengan ABORSI semua bisa selesai, well dia lebih bajingan dari segala pekerjaan terkutuk di dunia ini.

    @annots: hehe:mrgreen: emang panjang notts, g mudah nulis ini. sama sj membuka aib diri sendiri. cuman saya trenyuh juga dgn nasib perempuan2 lain yang kebingungan ketika mengalami hal ini.

    @deteksi: duhh, udah ditodong kisah selanjutnya. apaan lagi yahh????

    @indahjuli: untuk saat ini bersama keluarga ayahnya. untungnya keluarga “mertua” saya ini, fine2 aja masalah beda keyakinan, cuman keluarga besar pihak saya dan dia yang ikut campur bikin semua repot jadinya. tapi semoga, setelah ijazah sudah di tangan kita lanjutkan dengan Ijabsah ato pun nikah di gereja. gitu aja mbak, and then… keluarga kecil kami bisa sama2 lagi.

  4. Kalo di Perancis, anak SMA yg hamil bisa melanjutkan sekolahnya. Paling cuti 4 hr atau seminggu bagi yg kehamilannya normal. Yg punya masalah dgn kehamilan bisa cuti lebih lama: utk pelajarannya bisa minta teman/ortu ambil PR/catatan di sekolah, minta guru khusus datang ke rumah/RS, Sekolah sistem jarak jauh. Untuk mahasiswi sepertinya sama juga. Ada pilihan lain juga : berhenti sekolah sama sekali, jika anak sudah masuk TK, ibu-ibu muda ini bisa ikut kursus yang digaji, mis: di AFPA, GRETA, di Universitas,…

    Biasa cewek-cewek sekolah yg hamil ini langsung keluar dari rumah ortu, karena mereka akan mendapat santunan dari pemerintah : Alocation Parent Isolé/ Santunan Single Parent. Pemerintah akan membayar 95% perumahan, 100% kesehatan ibu/anak, sejak hamil 5 bulan – anak lahir umur 3th akan mendapat tunjangan anak, prime melahirkan 980€.

    Attention : pacarnya tidak boleh ikut tidur di rumahnya. Jika ketahuan bisa hilang itu tresori & harus mengganti rugi apa yg sudah di terima (Alocation Parent Isole), yg lainnya tergantung income cowoknya. hehehe…
    Begitu pun jika tinggal di rumah Ortu, ada beberapa santunan yg tdk diberikan.

    Walaupun sistem sudah demikian, aku jarang melihat anak sekolah hamil.

  5. @juliach: wah kita sesama cuek bebek nih.. asikk. Bedewei punya kamar kosong lagi di rumahnya ndak??? kayaknya enak di perancis sana.. huhuhuhu **bermimpi tinggal di perancis**

  6. tenang aja cha, saya salah satu orang yg gak terlalu ambil pusing dengan perbedaan. Karena dari perbedaan itu makan tercipta sebuah kesempurnaan. Coba kalo di dunia laki2 doang ato cewek doang kan gak lucu hahahahhahahahha

    btw nice story and nice problem solving

  7. Memang perlu berhati besar menghadapi masalah seperti ini. Dan kamu sudah punya “big heart” itu. Mirip sekali dengan keponakan perempuan saya, penyelesaiannya : salah satu mengalah mengikuti keyakinan salah satunya. Dalam hal ini, keponakan saya mengikuti keyakinan calon suaminya. Demi si buah hati, dia saja kan yang layak diselamatkan dalam kondisi ini?
    -Mee-

  8. @katie4zee:
    Gini jeung.. masalah beda ato gak sebenarnya gampang aja kalau mau dibilang. tinggal salah satunya pindah beres bukan??
    Tapi.. saya sendiri masih mikir, okelah kita nikah demi menutup aib ini, demi status anak di mata negara. habis itu???
    Saya belum mengenal bapaknya baby saya ini dengan baik… bukan keluarganya bukan sifatnya, tapi bagaimana nanti setelah kita bersama2.
    Bagi saya nikah itu ga cuman lgs ke penghulu ato gereja dan selesai. tpi kedepan nanti kyk gimana, kita masih muda. tujuan kita nikah kalo cuman nutup aib wahhh saya g mau. saya juga harus yakin bahwa mental juga siap dulu baru bisa, daripada kami bubar di pertengahan jalan nanti.
    Yuppp.. akhirnya setelah 3 tahun lebih ini, anak udah gede emang. Dan saat ini boleh dikatakan kami sudah SIAP lahir batin untuk hidup bersama2 dalam ikatan pernikahan. Tinggal diresmikan saja.
    Ini sih cuma pikiran dan pendapat saya dan bapaknya baby saya juga. Kami mending begini dulu, menyamakan visi kami kedepan mau gimana, daripada buru2 dan terus bubrah..

  9. Ping balik: Kok gak nikah aja sih?? Tentang saya « ocH4 pUnq bLoG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s