Menulis dan Bloger Papua

Akhir2 ini (ceile kt2nya), menulis merupakan kewajiban bagi saya yg sedang menjalani proses akhir sebelum menjadi seorang sarjana.  Yah.. skripsi itu sodara2. Masih dalam proses yg sangat menegangkan, karena semua jadi tegang disaat2 mendekat pendaftaran pendadaran yang akan berakhir besok. Dan ternyata… gagal deh mewujudkan impian bakal di wisuda di bulan Mei nanti.  Arghh sudahlah, biarkan hal menyakitkan ini berlalu.

Gara2 kemarin sempat nulis tentang Festival di Jayapura Papua nanti, timbul keinginan untuk mengumpulkan para penulis blog yang kebetulan berasal dari Papua, tinggal di Papua, ataupun punya keterikatan dengan Papua (kayakna pernah baca dimana yah kt2 ini?? ehh punya CA ding) untuk membentuk sebuah komunitas bloger yang setidaknya bukan hanya menjadi trend sesaat semata. Saya yakin udah banyak penulis2 di Papua yang jago2 ataupun para amber (pendatang) seperti kami ini yg tinggal atau pernah tinggal di Papua dan punya hobi atau pengen belajar menulis.

Pernah punya teman yang seorang penulis novel asli Papua, dan sering keluar negeri karena kegiatan2 menulis dan lain2. Teman saya ini bahkan ketika skripsi sanggup menulis sampe 600 halaman lebih (buju busyet, ampun dah). Dia ini yang pernah mendorong saya untuk aktif menulis apapun karena didasarkan kerinduannya agar orang dari Papua juga punya karya2 yang banyak di Indonesia ini dalam bidang tulis menulis. Malah saran dia ke saya supaya membuat skripsi yg bagus dan diterbitkan dalam bentuk jurnal (ampun dijehhhh).

Saya yakin seyakin2nya kalau masih banyak bakat terpendam diantara anak2 dari Papua. Yang bukan hanya dari seni tapi juga dari minat2 yang lain seperti menulis ini. Ada yang berminat membuat acara Papuan goes to blog??? Untuk sementara masih sibuk memprovokasi anak2 di arena per-chatting-an. Dan berharap agar ini bisa jadi kenyataan demi mengangkat isu2 lain di Papua selain masalah separatisme, terutama masalah pemberdayaan perempuan dan akibat dari HIV AIDS yang udah parah di Papua (lho cha, kan udah ada LSM2 dan lain sebagainya ituh??? apa salahnya coba kalo di Papua juga banyak anak muda yang tertarik untuk nge-blog dibanding merekam video2 p**** di hape??)

17 thoughts on “Menulis dan Bloger Papua

  1. @Rumahkayubekas: makasih kang, semoga terwujud

    @Taufik: nahhh ni anak dari Papua juga nih, keep contact ye

    @Tika: hmm….. apa perlu di undang maria eva yah?? soale jadi ingat peran dia di Film Horor, kekekeke. ah jeng tika kamyu ini bisya ajah

  2. Wasalam,

    Saya setuju dengan ide ini. Kapan kita mulai? Tetap, kita harus memerhatikan tata bahasa, kosa kata, dan tanda baca. Sekalian menjadi media belajar anak-anak muda Papua.

    Salam

    Degei
    http//:pendidikanpapua.blogspot.com

  3. @degei:
    Salam juga, maaf kemarin saya link dari tempat anda tentang pendidikan di Papua. Terima kasih sudah mampir disini. Semoga nanti kita bisa wujudkan itu. Blog anda bagus🙂

  4. Kak…saya orang Jakarta…saya tertarik sekali untuk tinggal di Papua dan menjadi warga disana..
    Kalau boleh tau…bagaimana cara bisa tinggal disana ya?

  5. @ Ingrid

    Serius lo???😕 Apa yang menarik di Papua sana sini?

    Kalau boleh tau…bagaimana cara bisa tinggal disana ya?

    Daftar saja jadi transmigran Ndak ada persyaratan khusus, datang saja. Tapi kalo mau menetap ya setidaknya punya keluarga di tempat tujuan atau pekerjaan. Biaya hidup di Papua tinggi.😉

  6. @Inggrid:
    nah tuh si jensen dah komen. betul tuh. Kalo mau dateng aja. Tapi mendingan kalo punya keluarga di Papua lebih baik, biar bisa numpang sementara sambil cari peluang yg ada.
    Biaya hidup tinggi, tapi kalu u pinter ngatur bisa lumayan kok😀

  7. Seriously, soal kumpulan bernada kopdar ini saya gak begitu antusias. Sampe sekarang cuma orang2 tertentu (di darat) yang saya kasih URL saya. Akses search engine pun belum saya buka ke blog saya.
    Ini berhubungan erat dengan tujuan awal saya ngeblog, yaitu ingin menyuarakan aspirasi saya sebagai amber anti separatis, dengan pengungkapan fakta yang berimbang tentang the so-called pelanggaran HAM di Papua, dan segala keluhan2 saya tentang “penganak-tirian amber”, sebuah konsep yang sedikit sekali diamini orang (mungkin karena cuma menimpa sebagian kecil amber?). Untuk itu saya berniat ngeblog secara “gerilya selektif” dulu, semata-mata demi menghormati teman-teman komen saya, yang sebagian saya jamin bakal terpukul mengetahui sudut pandang saya terhadap “perjuangan” mereka.
    Namun sampe sekarang tujuan awal ini belum kesampaian, dan selama ini cuma ngepost tulisan2 “harga tahan-tahan”, berhubung saya masih dalam tahap pengumpulan referensi yang kredibel. Itupun terseok-seok, berusaha zig-zag dengan tuntutan cari duit sehari-hari.

    @Inggrid | Jensen
    Yang saya dengar, biaya hidup di Papua sama dengan Jakarta. Yang beda tuh kalo dibandingkan bea hidup di kota-kota lain di Jawa. Itu kalo gak salah info. Yang jelas disini bakso paling murah 8000 perak.

  8. @Fritzer:

    ….amber anti separatis…

    Hehe😀 Kalo saya sih mana yg terbaik buat masyarakat Papua biar mereka atur sendiri. Tanah mereka, hak mereka.

    …pengungkapan fakta yang berimbang tentang the so-called pelanggaran HAM di Papua…

    yah… itu juga perlu. karna banyak oprotunis bangsat yg cuman cari kesempatan mengeruk keuntungan dengan propaganda2 seperti itu

    …segala keluhan2 saya tentang “penganak-tirian amber”…

    penganak-tirian seperti apa sodara? baru kali ini dengar begini ni…
    Klo kayak penerimaan CPNS, mungkin ada yg seperti itu. Sama halnya ketika saya pengen ke freeport, tante saya nanya KTP kelahiran mana, lah saya satu2nya yg lahir di Jogja, adek2 lahir di sorong, jadi saya sendiri kurang beruntung kayaknya.

    Tapi IMO biar amber, dalam kaitannya klo bicara ttg kesempatan kerja (kalau ini yg kamu maksud penganak-tirian), skill yg bagus lebih menjamin kita kok supaya bisa lebih eksis.
    Namun terus terang, saya masih bingung dengan yg namanya penganak-tirian itu dalam bidang apa dulu…😉 Karena demokrasi di Indonesia adalah mayoritas punya suara, dan sebagai yg namanya pendatang alias amber bukankah ada pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.😉
    Mungkin Fritz bisa bagi cerita banyak.

  9. *liat-liat sekeliling*

    Woow ganti perabotan menyambut natal nih?:mrgreen:
    Ah, theme yang menyegarkan, mengingatkan pada satu blog referensi anti separatis… nanti deh pada waktunya ta’link😉 .

    penganak-tirian seperti apa sodara? baru kali ini dengar begini ni…

    Salah satunya sudah sampeyan sebut diatas.
    Sekali lagi saya gariskan :

    ..sebuah konsep yang sedikit sekali diamini orang (mungkin karena cuma menimpa sebagian kecil amber?)

    dan

    ..tujuan awal ini belum kesampaian…….berhubung saya masih dalam tahap pengumpulan referensi yang kredibel.

    Tapi mungkin ada satu contoh :
    Waktu lulus SMU, saya pemegang NEM tertinggi provinsi untuk program Bahasa. Di sekolah saya runner-up untuk keseluruhan lulusan. Nama saya masuk koran.
    Tapi di sekolah, bahkan selembar kertas ucapan selamat pun saya tidak terima, boro-boro rekomendasi PMDK ataupun SLSB.
    Sementara teman-teman komen yang di sekolah peringkat 4, 6, dan 9 (ini saya gak ingat persis; yang jelas paling tinggi peringkat 4) malah panen beasiswa. Bahkan dipertemukan dengan Kepala Dinas P & P Provinsi. Dielu-elukan.
    Padahal untuk saya yang ingin sekali kuliah di Jawa, dengan keadaan ekonomi saya, beasiswa itu satu-satunya harapan saya. Akhirnya saya terpaksa kuliah di UNCEN dengan serba tidak ikhlas.
    Selama di UNCEN, banyak lagi bentuk-bentuk penganak-tirian. Salah satunya, yang jensen biasa sebut “eksklusifisme eksklusifitas komen”, yang mana amber diharamkan jadi Ketua Senat (sampe sekarang tidak mampu bentuk BEM; senat mulu), baik uni maupun fak.
    😯 Lah niatnya satu contoh malah ngasih dua. Ini karena saking banyaknya contoh, sampe2 gak diniatkan pun terketik sendiri😆 .

  10. @Fritzer:
    kayaknya aki2 ismet ini doyan sama kamu deh😉😆

    back to topic,
    Ouh kalo kayak gitu, menurut saya sekolahnya yg salah. Kepseknya orang mana sih? Asli atau amber? Bisa jadi disana emang seperti itu yang terjadi. Sungguh sangat disayangkan. Tapi mungkin juga, itu supaya anak2 asli sana jadi perhatian juga.

    Gak tau yah, saya kok merasa dilema jadinya. Dan sungguh tidak pada tempatnya saya omong dilema ke kamu karna saya sebagai amber malah tidak mendapat perlakuan seperti yang kalian terima di Jayapura sana. Saya NEM tertinggi juga jurusan IPS, dan mendapat PMDK ke UGM tanpa tes sodara. Cuman pake nilai raport kelas 1-3 dan saya diterima. Kami yang diterima di UGM saat itu malah semuanya Amber. Dua Maluku, 1 Batak😀

    Terus terang di sekolah saya di Sorong, ini berdasarkan orang tua saya yg juga pengajar disitu, amber lebih pintar2 dibandingkan yang asli. INi tekanan betul ke para pengajar. Agar anak2 asli Papua juga harus berkembang seperti kami. Dan ada beberapa yang bagus akademiknya, tapi coba lihat saja yang lolos sampai UGM asli Papua dari jalur Prestasi ada berapa sih? Adek cewek saya aja lolos tahun 2006 sama kayak saya jalurnya di MIPA UGM. Jadi di Sorong mungkin tidak seperti di Jayapura.

    Di Jayapura, mungkin menurut saya, “penganak-tirian” itu ada karena mereka mau anak2 komen sana lebih maju lagi. Ketua Senat dan lain2 well, saya bingung bilangnya, tapi mungkin biar sudah. Biar dong juga tampil to. Sama halnya saya memandang dalam kumpulan ikatan mahasiswa asal sorong yg ada di Jogja sini, biarpun kita yg amber mampu, tapi biar dorang yg pimpin sudah. Presiden RI saja tidak mungkin orang luar Jawa kok.

    Tapi, jika saya jadi kau saat itu, saya tuntut untuk bisa dapat jalur PMDK dari sekolah. Itu hak kita juga. Tapi kalo ada pembatasan2 yg dilakukan terhadap kita. Ya sudah. Jalan masih banyak saya rasa sodara. Kesempatan kerja untuk kita malah lebih bagus kalau skill kita emang mantap. I’m telling you the truth here. Dengan bahasa Inggris mu itu, malah kau bisa lho dapat kerjaan mantap asal buka mata lebar2 lihat peluangnya. Saya aja dapat tawaran menggiurkan hanya karena bisa bahasa inggris sedikit😈

    Trus kayak PNS, kelihatannya sekarang diutamakan orang asli sana dulu. Iya tidak? Ya itu sudah, tinggal di tanah orang jadi ikut aturan main yang ada saja. Kalau pintar cheat kita juga bisa sukses lho😉 Aturannya kayak gitu disana *pasang muka iblis*

  11. Kepseknya orang mana sih? Asli atau amber?

    Kepseknya W.W. Kambuaya, yang saya sempat bikin karikaturnya itu.😈

    Tapi mungkin juga, itu supaya anak2 asli sana jadi perhatian juga.

    Setelah angkatan saya lulus, kebijakan berikutnya dari W.W. gombel adalah : siswa amber dilarang masuk IPA. program tsb dikhususkan untuk siswa komen.
    “Konsekuensi”nya, siswa komen dilarang terlibat dalam OSIS, karena menurut beliau aktif dalam politik itu merusak orang Papua.
    Nyatanya sekarang dia sendiri maju jadi caleg Golkar.

    Biar dong juga tampil to

    Sejak integrasi tahun 1963 pun orang Papua sudah tampil. Saya benar-benar tidak paham tentang anggapan bahwa orang Papua kurang tampil di Papua. Bagian mananya sih?
    Seleksi di segala bidang (PNS, swasta, LSM, sampe ke politik) sudah diupayakan sebocor mungkin, supaya sebanyak mungkin komen bisa masuk. Kalo masih gagal juga ya memang karena memang otaknya tidak mampu.
    Siapa suruh waktu sekolah orang tua bawa parang kalo anaknya tidak naik kelas. Walhasil, di Wamena 80% lulusan SD buta huruf, dan persentase yang tidak jauh beda untuk lulusan SMP cuman bisa nulis namanya sendiri.
    Kalau sadar diri tidak pintar ya tahu diri saja. Tunggu saja sampai berganti generasi, mungkin yang berikutnya bisa lebih pintar. Semua suku juga sama, harus melalui seleksi alam. Cuma orang Papua saja yang maunya segala serba instan.
    Siapa suruh taunya cuma mabuk.

    “penganak-tirian” itu ada karena mereka mau anak2 komen sana lebih maju lagi

    Bagaimana dengan seleksi alam? Keadilan? Sampai kapan mau dimanjakan terus?
    Lagipula setelah maju (baca: berhasil kuliah di Jawa, bahkan di LN), cuma sebagian kecil yang mau kembali kok.
    Yang paling parah malah orang2 yang hidup enak tanpa perlu “berusaha untuk maju”, seperti Benny Wenda atau Herman Wainggai yang daripada kerja keras cari hidup seperti orang lain, lebih suka makan gratis di Inggris dan Australia dengan kedok suaka politik.
    Saya juga bisa kalo cuma gitu. Tereak2 merdeka, rela digebuki sedikit, ngemis ke aktivis HAM, dapat suaka, lalu makan-tidur gratis di luar negeri.

    Kalau pintar cheat kita juga bisa sukses lho😉
    No way😈
    Itu sudah masuk ranah prinsip. Saya tidak akan pernah rela menurunkan level sejajar dengan mereka-mereka yang curang.
    Lha ijazah S.Pd saya saja predikat kelulusannya bukan “memuaskan” atau “sangat memuaskan”, tapi “JUJUR”.😆

  12. @Fritzer:
    Ya ya ya… sepertinya sinis banget mandang orang2 disana. hehehe😆
    Tapi kalau memang kayak gitu, itu harus dirubah kan.

    Seleksi di segala bidang (PNS, swasta, LSM, sampe ke politik) sudah diupayakan sebocor mungkin, supaya sebanyak mungkin komen bisa masuk. Kalo masih gagal juga ya memang karena memang otaknya tidak mampu.

    Sodara, emang kenyataan kayak gitu disana. Sangat sedikit yang pintar yang bisa lolos. Trus kalau mereka tidak dikasih ‘kesempatan’ masuk kayak gitu, ntar protes lagi mereka. INDONESIA BISA BUAT APA LAGI KALO TIDAK KAYAK GITU? Nanti diprotes dengan kalimat “kita yang tuan tanah kok orang lain yang memimpin”. Bukannya negara ini sedang berusaha mengambil hati orang sana biar tidak berteriak2 M terus. hehe😉

    Siapa suruh waktu sekolah orang tua bawa parang kalo anaknya tidak naik kelas. Walhasil, di Wamena 80% lulusan SD buta huruf, dan persentase yang tidak jauh beda untuk lulusan SMP cuman bisa nulis namanya sendiri.

    Ha ha ha… sudah biasa itu yah..😆 itu tugas kita sebagai orang (yang numpang hidup) sana juga lah. PR sangat banyak di Papua sana. DAERAH YANG SANGAT KAYA TAPI ORANG BODOH SEMUA. Sekolah2 yang bermutu paling isinya anak pejabat. Otak kalau dah isinya perempuan dan minuman saja ya emang susah. Tapi ombak saja bisa bikin pecah karang yang keras itu. Sa yakin suatu saat bisa asal mereka dibantu keluar dari paradigma2 sempit itu.

    Kalau sadar diri tidak pintar ya tahu diri saja

    Hahahaha… ya begitu sudah. Tapi ingat, Papua saja otonomi khusus. Diistimewakan halnya Aceh. Kalo sekarang mereka minta diistimewakan haknya dibanding yang lain, mau buat apa😆

    Let me ask you this question? Kenapa u gak keluar saja dari situ dibanding memaki2 keistimewaan mereka? Santai aja bro. Mereka mau dimanjakan kek tidak kek, yang akan rugi besar justru mereka. SAMPAI KAPANPUN JUGA GAK AKAN ADA PRESIDEN RI DARI PAPUA kalo dorang maunya kayak gitu tapi masih berkubang dalam lubang itu.

    Sekolah jaman sekarang susah. Lebih bagus sekolah jaman Belanda yang keras itu. menurut mama saya

    Cheat yang saya maksud disini yah pintar2nya kita lihat peluang yang ada to disana. Wadefak dengan karna saya amber saya susah dapat peluang disana.

    Saya juga ada sedikit sakit hati dulu karena keluarga pernah bantu masy salah satu suku di Sorong. Dibantu carikan jalan supaya bisa tinggal ditanah adat milik orang asli Sorong, malah mereka nuduh papa saya mau larikan duit mereka yg berhasil papa saya dapatkan dari donatur luar negeri. Minta dibantuin bangun gereja, papa saya yang bawa proposal ke walikota. Setelah dapat, mau dibantuin pengelolaannya malah mereka gak mau. Padahal papa saya takut ini jangan2 bukan habis untuk gereja tapi untuk minum mabuk.😆

    Udah buat banyak, kadang masih dicurigai macam2. Tapi kita gak pernah ngitung2 itu. Papa saya bilang, berikan saja, bantu saja, ada yang minta tolong harus bantu. Karena kita hidup dari tanah Papua dan harus berikan timbal baliknya juga ke masyarakat sana. Kalo mereka masih banyak yang bodoh, bukan mereka juga yang salah. Sistemnya, pola pikir masyarakatnya, itu yang harus dirubah lah.

    Itu pelan2 bro, gak bisa instan juga.

    *tiba2 amnesia*
    **nulis apa sih gue**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s