Masalah cover majalah ituw

tempo.jpg

Melihat cover ini yg tentu sj setelah liat di tv, ternyata jadi masalah buat umat Kristiani, terutama yg Katolik. Meskipun sudah ada permohonan maaf dari pemred Tempo sendiri. Dan tentu saja majalah yg sudah beredar tidak dapat ditarik kembali, tapi menurut quw g perlu lah sampe ditarik. Cukup jadi pembelajaran bahwa Indonesia ini memiliki keanekaragaman yg bisa menimbulkan multi tafsir. Baguslah kalo pihak yang memprotes dan yg diprotes bisa berdialog dengan baik.


Bagi daquw yg seorang penganut Katolik, lukisan yg dijadikan plesetan cover itu bukan apa-apa, hanya imajinasi seorang Da Vinci. Tetapi makna di dalam lukisan itu yang di imani dalam kehidupan Katolik. Perjamuan terakhir Yesus dan para muridnya yang setiap minggu bahkan setiap hari dalam misa Katolik dirayakan dengan perjamuan ekaristi yang merupakan inti dari setiap misa adalah amanat dari Yesus sendiri.

Kisah Institusi mengutip ucapan Yesus pada Perjamuan Terakhir yaitu “Terimalah dan makanlah. Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu” dan “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan semua orang demi pengampunan kekal. Kenangkanlah Aku dengan merayakan perjamuan ini.” Kalimat “Kenangkanlah Aku dengan merayakan perjamuan ini” -lah yang menjadi dasar terselenggaranya Perayaan Ekaristi (dari tante Wiki)

Hanya sayangnya memparodikan tokoh Yesus dalam lukisan asli menjadi Soeharto versi Tempo mungkin kurang disetujui oleh berbagai kalangan. Setelah membaca ini, saya pun berpikiran sama, apakah ini sindiran untuk orang-orang yg menganggap eyang Soeharto dulunya adalah sang “juruslamat”, mampu menyelamatkan perut-perut dengan beras nya, sehingga membuat plesetan dari lukisan Last Supper itu.

Well, sumpah saya tidak tersinggung melihat cover ituw.

4 thoughts on “Masalah cover majalah ituw

  1. sebenarnya penafsiran tersebut tergantung sudut pandang pembaca. Saya gak tau juga motivasi majalah tempo kok membuat ilustrasi seperti itu, padahal sebagai media cetak yg notabene lebih peka terhadap isu-isu sosial harusnya bisa mengerti bahwa di negara ini masyarakatnya masih dalam tahap pembelajaran berdemokrasi. Mungkin sebagian orang menganggap biasa, mungkin juga sebagian orang merasa tersinggung bahkan sebagian orang mungkin menganggap bahwa gambar dibawah sama dengan gambar di atas.

    saya kurang mengerti juga alasan sebenarnya dari majalah tempo. Banyak kemungkinan yg bisa terpikirkan, dari mencari sensasi supaya oplah meningkat sampai isu-isu sara.
    masalah tersinggung dan gak tersinggung kembali lagi ke cara memandang dari masing-masing orang. Ke depan mungkin ini bisa mejadi pembelajaran bahwa isu-isu sensitip masih belum bisa diterima bangsa ini dengan lapang dada dan sikap kedewasaan

    och4: Yep, bisa jadi bagian dari strategi pemasaran juga, kalo isu sara sih mungkin g dipikirkan sm majalahnya, setelah keluar baru deh, pada tau kalo ada yg menganggap hal itu menyinggung

  2. wah, sayah ituh nyari TEMPO ber-cover itu kemana mana dah abis. nagih ke ndorokakung juga katanya ndak produksi lagi.
    filosofinya dalam sih menurut sayah.

    ocha: beneran abis krn cover nya kali yahh yg diributin. sama daquw jg nyari g dapet tuh

  3. hihihi…saya di rumah ada tuh..😀

    *bangga*

    menurut saya sih itu sindiran. mungkin mereka sudah memikirkan dampaknya kira-kira cover ini akan diributkan, namun ternyata ekspektasi mereka melebihi apa yang mereka bayangkan.🙄

    och4: mbok sayah dipinjemin jeng pengen baca isinya. bukan pingin liat covernya.kayaknya jeng tika jg mau ituh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s