Perjalanan yang mengesalkan 3

Untuk sekuel ketiga ini, aquw lebih ingin menyoroti sikap arogan, kasar, tak mau tahu dan menjengkelkan dari para Buruh Pelabuhan atau dikenal dengan nama Portir.

Profesi mereka merupakan profesi yang sangat berat dan belum tentu setiap kapal yang masuk mereka bisa mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan hidup. Tetapi…. dengan cara-cara yang mereka lakukan, aquw kesal, jengkel, esmosi campur aduk, melihat kelakuan mereka yang tidak beradab. Karena trayek kapal yang ditumpangi (lihat sekuel 2), hanya lewat Batulicin, Makasar dan berakhir di Larantuka, maka aquw hanya mau menceritakan pengalaman buruk bertemu portir2 khususnya di Makasar dan Larantuka.

Untuk yang di Batu Licin, mungkin karena kapal masuk ke pelabuhan pada saat malam dan hujan deras banget jadi aquw tidak dapat melihat dengan baik bagaimana kelakuan portir Batu Licin.
Di Makasar, para portir berkelakuan seenak udelnya. Mentang-mentang membawa bawaan berat mereka tidak pernah mau membawa barang dengan tertib dan baik ketika menurunkan barang ke pelabuhan. Apakah memang karena kejar setoran buat yang dirumah? Aquw mungkin bisa mengerti. Tetapi…… haruskah berkelakuan seperti itu. Menyerobot kesana kemari tanpa melihat apakah didepan itu ada ibu2 ato nenek2, ato perempuan2 seperti aquw ini yang tentu saja kalah tenaga dibanding mereka. Apakah memang penumpang yang mau turun ke pelabuhan Makasar harusnya menghindar dan memberikan jalan kepada para portir biadab itu? (sorry tulisan ini tidak menyangkut SARA dsbginya, masih esmosi banget neeh kalo diingat). Mengapa biadab? Karena merasa membawa barang yang berat sehingga harus cepat2 turun dan karena itu sah2 saja nabrak2 orang yang menghalangi didepan.

Ketika itu diri quw mau turun untuk narik duit di ATM bersama ipar quw tersayang di pelabuhan, ada portir yang mendorong2 kami dari belakang pada saat udah berada di dekat pintu keluar dari kapal. Ya udah, basic instinct quw mulai naik, quw dorong lah portir itu lagi, dan…….. OMG dia dengan sekuat tenaga mendorong kami lagi dengan sangat keras. Shock banget langsung saat itu, seorang ibu langsung berkata, “udah nak minggir aja, kalo g minggir nanti kalian ditabrak2 lagi”. Akhirna aquw berpikir, mungkin di pelabuhan ini sistem rimba begini yang berlaku, dan aparat kemanan kayakna tidak bisa menangani perilaku yang seperti begini.
Okelah kalau dia emang kejar setoran, tapi apakah dengan cara seperti itu halal uang hasil keringatnya itu…. Menyedihkan banget.

Untuk portir yang di kota Larantuka, ternyata bukan sikap suka menyerobot kesana kemari aja yang terjadi, melainkan (bagi aquw lucu banget) suka menyerobot pengen ngangkat barang orang yang sebenarnya orangnya tuh g butuh tenaga portir. Udah gitu sampe bertengkar karena pemiliknya g mau diangkat barangnya, dan portirnya ngotot bahwa di pelabuhan tersebut barang2 penumpang harus portir yang mengangkat. Kejadian ini sebenarnya tidak terjadi pada setiap orang. Melainkan hanya pada orang yang dianggap wajah baru di Larantuka, seperti orang dari kabupaten lain di daratan Flores Timur yang kebetulan turun di Larantuka hanya transit dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan bis ke kabupatennya. Atau juga para ‘pahlawan devisa’ alias TKI yang baru pulang dari Malaysia dan lain2 ataupun yang pulang kampung berlibur dari pekerjaan di Batam. Orang2 kayak gini yang selalu jadi incaran para portir Larantuka.

Sebuah saran dari aquw, kalo kalian ada yang mau ke Larantuka dan mengalami kejadian tersebut saat mau turun dari kapal, bilang aja ama portirnya “pak, kalau mau angkat barang saya silahkan saja, saya malah senang, tapi saya gak punya duit, gimana dong pak, beneran nih mau bantuin ngangkat??”. Diijamin pasti portirnya langsung pergi.

Well, itulah pengalaman tak enak quw dengan para portir. Jadi pesan sponsor, kalau anda ke Makasar dengan kapal laut, turunlah dari kapal saat udah agak sepi kalau anda ingin nyaman turunnya. Tapi kalau fighting spirit anda emang tinggi tak ada salahnya melatih itu dengan para portir di Makasar. Kalau ke Larantuka, gunakan saran saya diatas.

That’s all for today. To be continued with my experience when we arrived at Larantuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s